Post Power Syndrome (PPS) adalah gejala yang terjadi dimana ‘penderita’ hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (entah jabatannya atau karirnya, kecerdasannya, kepemimpinannya atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini. Realita yang ada di depan matanya sekarang.
Kalaulah boleh aku kutip dari mailing list konseling psikologi, secara umum syndrome ini bisa kita katakan sebagai masa krisis. Kalau digolongkan krisis ini adalah semacam krisis perkembangan. Dalam arti, pada fase-fase tertentu di dalam kehidupan kita, kita bisa mengalami krisis-krisis semacam ini. Pada gejala post power syndrome ini, khususnya adalah krisis yang menyangkut satu jabatan atau kekuasaan, terutama akan terjadi pada orang yang mendasarkan harga dirinya pada kekuasaan. Kalau misalnya dia tidak mendasarkan dirinya pada kekuasaan, gejala ini tidak tampak menonjol.
Dari kecil dalam keluargaku selalu diajarkan untuk percaya kepada Allah, selalu diajarkan untuk tidak menganggap apa yang aku miliki adalah karena kehebatan dan kemampuanku, tetapi semata-mata anugerah dari Allah yang dipercayakan kepadaku.
Tiba-tiba jadi teringat akan lagu ini:
tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadikita pasti pernah
dapatkan cobaan yang berat
seakan hidup ini
tak ada artinya lagireff1:
syukuri apa yang ada
hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini
melakukan yang terbaiktak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadireff2:
Tuhan pasti kan menunjukkan
kebesaran dan kuasanya
bagi hambanya yang sabar
dan tak kenal putus asa(jangan menyerah - d’massiv)
Menyanyikan lagu diatas memang mudah, lirik dan nadanya pun enak didengar, tapi ujian terhadap kerendahan hati terjadi bukan ketika kita menyanyi saat ini, tetapi ketika kita benar-benar dihadapkan pada kondisi nyata, kondisi dimana kita berada pada ‘posisi paling bawah’. Akankah kita masih bisa menyanyikan lagu diatas dengan hati riang gembira seperti halnya ketika kita sedang berada pada ‘posisi puncak’ ?
Trus apa yang harus kita lakukan untuk mencegahnya? Menurut beberapa ahli psikologi mengatakan :
1. Pada saat kita melakukan sesuatu atau sebelum menjabat, kita perlu belajar menyadari bahwa segala sesuatu itu adalah karunia dari Allah termasuk kekuasaan dan jabatan. Tugas kita adalah hanya sebagai alat yang dipakai Allah untuk melakukan pekerjaan-Nya. Jadi, kita ngga boleh mengganggap kuasa/ jabatan yang dipercayakan kepada kita sebagai milik kita yang harus kita pertahankan sepenuhnya.
2. Kita juga harus selalu menyadari bahwa kekuasaan itu tidak bersifat permanen dan kita harus menyiapkan diri apabila suatu ketika kuasa itu lepas dari diri kita. Apabila tiba-tiba kita kehilangan kekuasaan, tetapi kita mempunyai persiapan sebelumnya, maka kita akan lebih tahan menghadapi krisis ini.
3. Sebaiknya selama memegang jabatan, kita tidak memikirkan bagaimana mempertahankan kekuasaan, tetapi kita memikirkan untuk melakukan kaderisasi. Justru karena dengan kita melatih dan mendidik, maka nantinya kita dihargai, karena kita telah melakukan suatu regenerasi dan melakukan pendidikan, tugas mendidik orang lain, bukan karena kekuasaan yang kita miliki.
4. Kita perlu belajar rendah hati, tidak perlu sombong apalagi congkak. Apalagi mengungkit-ungkit kiprah dan hasil kerja keras kita selama ini. Keep low profile.
5. Sebanyak mungkin menanamkan kebaikan selama kita berkuasa. Kalau kita banyak menyakiti hati orang, kita banyak menindas orang, waspadalah bahwa gejala post power syndrome ini dekat dengan kita. Tujuan utama kekuasaan bukan agar kita dihargai orang, tetapi supaya kita berbuat banyak bagi kesejahteraan orang lain.
Post Power Syndrom ibaratkan penyakit kanker yang menular. Dia bisa menggerogoti seluruh jiwa dan harapan yang ada didalam diri si penderita, dan bukan berhenti disitu saja, penyakit ini bisa menular kepada orang-orang yang ada disekitar penderita.
Jadi buat apa terus berkeluh kesah dan bersedih meratapi nasib ? pandang terus masa depan yang lebih cerah. Yesterday is history, Tomorrow is mystery, and Today is Gift, that’s why it’s called PRESENT !
Semoga artikel ini bermanfaat buat kita semua, termasuk buat diri saya pribadi. Karena setiap orang pasti akan mengalami Post Power Syndrom ini. Entah dalam kadar ‘rendah’ ataupun kadar ‘tinggi’.
Dunia belumlah berakhir sobat !
Selamat berjuang dan tetap semangat …
inspired from : http://noviantoagam.wordpress.com/2007/04/04/post-power-syndrome/
picture from : http://lifestyle.okezone.com/photo/dt/content/2008/04/14/27/100339/myg7qUnwwA.jpg
No related posts.