Munjalindra.com adalah website yang berisikan kumpulan tips, trik, artikel tentang fotografi, HRD, Keuangan, Bisnis, Gadget, Smartphone, Android, dan Teknologi terkini

05192013Headline:

Pentingnya Surat Roya dan ‘meroyakan’ Sertifikat Rumah Anda

Surat Roya, Saat tibanya pelunasan suatu kredit (hutang) kita terhadap KPR rumah tinggal kita merupakan saat-saat paling bahagia dan menyenangkan. Bagaimana tidak, setelah bertahun-tahun mengangsur hutang pinjaman berikut bunganya dari penghasilan / pemotongan gaji setiap bulannya, sekarang saatnya untuk ‘lepas dan bebas’ akan semua tanggungan dan segera memiliki ‘seutuhnya’ rumah tempat tinggal kita ini.

Tapi jangan keburu senang dahulu kawan, karena masih ada beberapa hal yang kadang-kadang terlupakan ataupun terlewatkan oleh PRB (Pemilik Rumah Baru) ini yang luput dari perhatian, tidak menutup kemungkinan juga Para Pemilik Rumah Lama pun jarang yang mengetahui hal ini, kecuali mereka pernah mengalaminya ataupun membaca artikel ini tentunya. Hehehe .. ;)

Berikut ini dokumen-dokumen yang harus dipersiapkan sebelum mengurus Roya ke Badan Pertanahan Nasional setempat :

  1. Asli sertifikat atas tanah (dan bangunan jika ada), misal SHGB atau SHM –> sudah atas nama anda sendiri
  2. Asli sertifikat hak tanggungan (sehubungan dengan adanya APHT atas sertifikat tanah anda)
  3. Salinan Akta Jual Beli (AJB) atas kavling (dan bangunan)
  4. Asli Ijin Mendirikan Bangunan (IMB)
  5. Asli peta situasi
  6. Asli blue print denah/konstruksi bangunan
  7. Surat Keterangan Lunas dari Bank pemberi Kredit KPR
  8. Surat Pengantar Roya dari Bank pemberi Kredit KPR

Catatan :
Semua dokumen diatas akan Anda dapatkan dari Bank pemberi KPR begitu hutang telah LUNAS. Jadi bisa juga dijadikan sebagai check list dokumen-dokumen yang harus Anda terima saat pelunasan KPR, jangan sampai ada yang tertinggal / terlupakan. Ada istilah didalam bank : setelah meninggalkan loket, maka semua transaksi telah dianggap selesai khan ? jadi WASPADALAH ! ;)

Setelah semua dokumen disiapkan dari rumah, jangan lupa untuk menyiapkan masing-masing fotocopy-nya satu kali. Sekedar untuk jaga-jaga semisalnya nanti ditanya / diminta copy nya sewaktu di BPN.

Begitu sampai di BPN tempat rumah anda berdomisili, tempat pertama yang harus Anda tuju adalah koperasi nya, yaitu untuk membeli map dan syarat-syarat apa saja yang harus dilampirkan didalam map tersebut. Anda cukup mengatakan “Beli map untuk Roya rumah”, petugas koperasinya pun sudah tahu map warna apa yang akan Anda peroleh. Harga map Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah)  dan didalamnya ada yang hanya berupa map-nya saja atau ada lembaran fotocopy apa saja dokumen-dokumen yang harus dimasukkan.

Setelah semua dokumen dimasukkan kedalam map khusus dari BPN tadi, silahkan Anda masuk ke bagian dalam / loket pendaftaran Roya didalam gedung BPN, usahakan Anda datang sepagi mungkin, BPN sudah buka mulai pukul 08.00 WIB (berdasarkan pengalaman di BPN Kab. Bogor), untuk menghindari antrian ataupun tumpukan berkas yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada di meja petugas loket tersebut padahal di depan loket tidak ada siapa-siapa yang mengantri selain kita (kita berpikir positif saja mungkin saja itu dari biro jasa rekanan petugas tersebut).

Setelah kita mendaftarkan pengurusan Roya, nanti kita akan mendapatkan kwitansi untuk pembayaran pengurusan Roya ini. Silahkan Anda bayar ke bagian kasir / bank yang ditunjuk yg masih ada di dalam kompleks / ruangan BPN tersebut. Pengalaman saya untuk pengurusan Roya di kabupaten Bogor pada tahun 2010 kemarin dikenakan biaya sebesar Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah).

Setelah selesai pembayaran di kasir / bank, silahkan serahkan bukti pembayaran tersebut ke petugas dibagian kita mendaftarkan Roya tadi, dan silahkan menunggu barang sejenak (sekitar 1 hingga 2 jam berdasarkan pengalaman kemarin).

Nanti petugas akan memanggil Anda dan menyerahkan surat tanda terima dan surat untuk mengambil sertifikat Anda 2 (dua) minggu setelah hari Anda mengurus itu. Sepertinya dibutuhkan waktu cukup lama untuk memproses dan mencari dokumen-dokumen kita yang ada di gudang antah berantahnya BPN sana. Proses pada hari ini telah selesai, silahkan Anda untuk pulang. Ingat surat pengambilan sertifikat yang ASLI harus disimpan dengan baik dan dibawa 2 minggu yang akan datang.

Setelah 2 minggu, silahkan Anda datang kembali ke BPN tempat Anda mengurus surat Roya kemarin, dan serahkan kepada petugas dibagian pengurusan Surat Roya untuk pengambilan sertifikat Anda. Tidak begitu lama Sertifikat Rumah / tanah Anda akan diserahkan kepada Anda, kemudian cek ricek kembali dibagian dalam sertifikat tersebut di baris paling akhir didalam perubahan kepemilikan harus tercantum proses Roya terhadap APHT (Hak Tanggungan) dari pihak Bank pemberi kredit ke nama Anda / siapapun yang berhak terhadap sertifikat tersebut. Pada proses kali ini tidak diperlukan biaya apa-apa, dan Anda bisa pulang setelah sertifikat ada di tangan.

Proses pengurusan Roya pun selesai sudah. ;)

Jadi, jika kita total semua biaya yang dibutuhkan adalah :

  1. Ongkos beli map : Rp 10.000,-
  2. Ongkos pengurusan Roya : Rp 50.000,-
  3. Ongkos parkir 2 kali sewaktu daftar dan pengambilan : Rp 5.000,-
  4. Ongkos fotokopi : Rp 10.000,-

Total jenderal adalah Rp 75.000,- (tujuh puluh lima ribu rupiah) saja ! cukup murah meriah khan ?? Jadi, semisalnya Anda ada waktu senggang dan luang, silahkan untuk mengurusnya sendiri, ngga perlu pake CALO apalagi biro jasa yang minimal mereka memasang tarif Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) hingga jutaan rupiah untuk pengurusan Roya ke BPN, wow minimal 6 (enam) kali lipatnya lebih euy … hehehe .. ;) )

Selamat mencoba dan semoga berhasil ..

Keyword :

  • roya
  • surat roya
  • arti roya
  • pengertian roya
  • roya sertifikat
  • biaya roya sertifikat
  • roya adalah
  • biaya roya
  • apa itu roya
  • roya sertifikat adalah

What Next?

Related Articles

64 comments on “Pentingnya Surat Roya dan ‘meroyakan’ Sertifikat Rumah Anda

  1. the praw on said:

    Gan…
    sebenarnya Roya sendiri buat apa?
    terus..
    Klu kita gak pegang Roya apa resikonya?
    Many thanks gan…

  2. yudhiapr on said:

    @praw : roya itu adalah mengalih namakan dari Bank tempat kita menganggunkan sertifikat ke nama kita sendiri. hal ini terjadi jika sertifikat kita anggunkan (sebagai jaminan) ke bank. istilahnya ‘di balik nama’ kan gitu lah kalo di dunia otomotif.

    pengaruhnya jika sertifikat yg pernah di anggunkan dan udah lunas ngga kita roya adalah ketika kita akan menjadikan jaminan / anggunan suatu saat nanti, pihak bank biasanya minta kita untuk me-royakan sertifikat tersebut ke nama kita sendiri dulu, baru deh dia ‘berani’ mengucurkan dana nya dengan jaminan sertifikat kita tadi.

    semoga bermanfaat. ;)

  3. wishnu on said:

    Pak Yudhi,

    Kalau roya itu harus pakai SHGB atau SHM ya? saya masih kurang jelas. Lalu, biasanya kalau membeli rumah baru dari developer yang selalu SHGB bukan SHM? artinya kita sendiri yang harus meningkatkan statusnya, bukan bank begitu?

    Kebetulan saat ini saya sudah mengambil KPR tapi awam mengenai administrasi semacam itu.
    Mohon penjelasannya, mungkin ada yg bisa dishare? Thanks yaa

    Wishnu

  4. wishnu on said:

    Pak Yudhi,

    Kalau roya itu harus pakai SHGB atau SHM ya? saya masih kurang jelas. Lalu, biasanya kalau membeli rumah baru dari developer sertifikat yang kita terima apakah selalu SHGB bukan SHM? artinya kita sendiri yang harus meningkatkan statusnya, bukan bank begitu?

    Kebetulan saat ini saya sudah mengambil KPR tapi awam mengenai administrasi semacam itu.
    Mohon penjelasannya, mungkin ada yg bisa dishare? Thanks yaa

    Wishnu

  5. yudhiapr on said:

    @p wishnu : pengurusan Roya ini dilakukan jika sertifikat tanah pernah digunakan untuk jaminan ke pihak Bank. kalau misalnya bapak baru beli dari developer (tangan pertama), biasanya hanya perlu memastikan aja di lembaran sertifikat bapak nanti (pas lunas) ada tulisan pengalihan hak ataukah tidak. semisalnya tidak ada, berarti bapak tidak perlu melakukan proses roya ini.

    jadi gini contoh kasus : karena saya awal2 ambil KPR di BTN, di tengah perjalanan saya mendapat tawaran dari Bank DKI yang mempunyai bunga lebih rendah dari BTN saat itu. nah saya kemudian memindahkan KPR saya dari BTN ke Bank DKI, dulu proses ini langsung ditangani oleh marketing nya Bank DKI, yang saya tahu sekarang di BTN saya sudah lunas, dan saya tinggal nyicil hutang ke Bank DKI. nah begitu kemaren melakukan pelunasan di Bank DKI, ternyata di Sertifikat saya ada tulisan pengalihan Hak Tanggungan atas sertifikat itu (APHT) dari saya ke pihak Bank DKI, hal ini sepertinya semacam ‘jaminan’ gitu deh, jadi saat itu sertifikat tanah saya berada / menjadi anggunan di Bank DKI.

    Nah untuk mencabut Hak Tanggungan (APHT) itu, dibutuhkanlah Roya sertifikat, seperti yg tertulis diatas. Surat Pengantar Roya bisa diminta kepada pihak Bank pemberi kredit, dalam hal ini Bank DKI yang ditujukan ke BPN setempat dimana domisili rumah berada (dalam hal ini kepada BPN Kabupaten Bogor).

    Untuk SHM (Hak Milik) dan SHGB (Hak Guna Bangunan), hal ini biasanya ditanya pada waktu awal2 mau melakukan akad kredit dulu dengan developer dan pihak bank (khusus untuk tangan pertama), saya dulu kena tambahan sekitar Rp 500.000,- untuk mengubah dari SHGB yang berjangka waktu 20 thn an harus memperpanjang SHGB nya menjadi SHM yang tidak punya jangka waktu (alias unlimited).

    semoga bermanfaat …

  6. wishnu on said:

    Thanks informasinya Pak Yudhi, bermanfaat sekali buat saya. Maaf mohon penjelasan sedikit lagi.

    Kebetulan saya beli dari developer (tangan pertama). Bank yang ditunjuk untuk proses KPR adalah Bank Niaga. Sertifikat induk ada di Bank Niaga, tetapi akan dipecah dan ada biaya balik nama sertifikat atas nama Saya. Jadi saya tidak perlu melakukan roya ya pak?

    Hal lainnya soal SHM, jadi waktu sebelum akad developer mengatakan bahwa nanti sertifikat berupa SHM. Tapi saya dapat informasi ada rumah yang dijual di lokasi tsb yang sedang djual berstatus SHGB. Developer menjelaskan, status SHGB karena ybs melunasi pinjaman KPR lebih cepat dari tenor yang seharusnya. Saya jadi makin bingung mengapa melunasi lebih cepat malah jadi SHGB?

    Hal lainnya masih soal SHM dan SHGB tapi beda konteks. Apakah mungkin kita mendapatkan SHM tanpa melalui peningkatan status dari SHGB? Maksudnya apakah rumah yang saya beli dari developer bisa langsung mendapatkan SHM (ketika lunas KPR). Pemahaman saya adalah SHM tidak bisa langsung jadi, tetapi harus dari SHGB dulu. Mohon sharingnya pak.

    Thanks ya, sukses selalu.

  7. agus on said:

    nice info, thanks Pak. kebetulan saya juga mau ambil sertifikat saya di bank.
    kalo bpn kabupaten tangerang di mana ya?

  8. yudhiapr on said:

    @wishnu : begini pak, untuk mengetahui lebih jelasnya status dari sertifikat kita, bapak bisa minta untuk di perlihatkan sertifikatnya di Bank dimana bapak mengajukan KPR nya, dalam hal ini Bank Niaga.

    Nah disana sertifikat bapak apakah sudah ada disana, entah itu sudah dipecah, ataukah masih berupa glondongan besar yang belum dipecah oleh developer. nah dari sini bapak bisa liat apakah sertifikat sudah benar atas nama bapak, ataukah masih atas nama orang lain / developer, termasuk juga tipe dari sertifikatnya apakah SHM ataukah sudah SHGB.

    saya dulu pada tahun ke-3 dari cicilan minta untuk ditunjukkan (sekalian buat ngecek dan jaga2 saja sih bener apa ngga sertifikat saya sudah ada) ke Bank BTN dan ditunjukkan sertifikat Aseli nya tanpa perlu repot2 atau dijanji2 lagi. seharusnya di Bank Niaga prosesnya pun juga sama dengan yang di BTN. Semoga berhasil ya pak .. ;)

    @agus : untuk alamat BPN Tangerang (saya dapat info dari google, mohon dikoreksi jika kurang update) ada di :
    Nama : BPN KABUPATEN TANGERANG
    Alamat : Komplek Perkantoran PEMDA Tigaraksa, Kabupaten Tangerang

  9. adi on said:

    Hi Pak Yudhi,
    mau tanya 5 hal :
    1. Total 8 dokumen itu ..apakah semua harus wajib dipenuhi si pemilik rumah KPR tsb sbg persyaratan ke BPN ? Apakah semua bank (mana saja) pemberi KPR pasti standar pakai cek list ini ? Soalnya saya sewaktu akad kredit pertama kali lewat rekanan notaris bank tersbut tidak memeriksa sebelumnya dokument itu akan “ditahan” oleh pihak bank sampai kita pelunasan seluruh KPR. Seingat saya, waktu akad kredit, tidak ada check list spt itu, cuma pengertian saya sbg orang awam, hanya SHM dan AJB yang “ditahan”.
    2. Dari total 8 dokumen itu, dokumen mana yang hanya dicek verifikasi saja dan yang mana yang diambil oleh BPN ? berikut fotocopy 1x dari semua dok tsb ?
    3. Mengapa di dok. no. 3. hanya Salinan Akta Jual Beli (AJB) atas kavling (dan bangunan) yang diperlukan ? BUkannya yang asli juga ditahan oleh pihak bank ? Jadi kita perlu bawa yang asli juga ke BPN ?
    4.Sewaktu pengurusan datang ke BPN, benar spt anda bilang, musti pagi, karena musti tunggu antrian dipanggil kembali. Tapi itu pasti dihari yang sama kan Pak ? Wah, kalo enggak ..udah capek2 antri..sia-sia..
    5. Apakah setelah 2 minggu untuk pengambilan nya bisa diwakilkan dengan surat kuasa oleh keluarga kita ?
    Terima kasih pak Yudhi.

  10. adi on said:

    maaf, sampai terposting 2x…kalau saya pakai bank panin ..nanti saya mau tanya juga mengenai cek list dok ini ke bag.collection/marketingnya…Terima kasih info dari artikel ini..sangat bermanfaat.

  11. yudhiapr on said:

    @p. adi : postingan sudah saya hapus yg dobel pak …
    1. yang ditahan oleh bank pada awalnya adalah sertifikat rumah kita, baik yg berupa SHM ataupun SHGB, tapi biasanya surat-surat yang lainnya otomatis mengikut ‘pindah’ ke bank lain semisalnya kita pindah dari bank awal ke bank baru (dalam kasus saya pindah dari BTN ke Bank DKI) semua surat2nya otomatis diserah terimakan dari BTN ke Bank DKI tanpa sepengetahuan saya kalo ngga salah dulu, maaf sudah lupa kejadiannya udah beberapa tahun silam sih .. hehe :D

    2. pada waktu pengajuan roya ke BPN yang dibutuhkan adalah point 1, 2, 7 dan 8 saja pak sebetulnya. tapi kemaren saya bawa semuanya untuk jaga-jaga saja, karena telah saya masukkan ke dalam satu map khusus untuk surat2 rumah dan biar tidak tercecer kemana2. saya masukkan ke dalam list dokumen itu digunakan sebagai bahan checklist sewaktu pelunasan KPR kita. dan kemungkinan besar di semua bank sama deh pak … maaf saya baru punya pengalaman di Bank DKI saja, mohon bantuan rekan2 lain yg pernah mengalaminya, apakah sama list dokumen nya ?

    3. Kalau ngga salah yg asli sudah kita pegang sebagai tanda bukti telah terjadinya jual beli pada saat awal2 kredit dulu pak. dan di bank hanya menyimpan salinannya saja, yg nantinya dikembalikan ke kita.

    4. Untuk proses dari antrian sampai dokumen kita diproses sebenernya sih hanya beberapa menit saja pak, tapi berdasarkan pengalaman saya di BPN Kab. Bogor kemaren ternyata bagian yang memroses surat roya ini masih menyisakan satu tumpukan PR yang belum dikerjakan hari kemaren, atau mungkin aja setumpukan kerja sampingan yang dia dapat dari rekan-rekan notaris ataupun ‘agen2′ yang lewat pintu samping … ini di endonesya bung … hehehe … :D

    5. untuk perwakilan harus menggunakan surat kuasa diatas materai Rp 6.000,- dan KTP berikut lembaran ASLI dari kwitansi yang diberikan oleh BPN pada awal proses. karena saya ngga mau ribet, ya terpaksa deh meluangkan waktu nya barang sejenak. Proses pengambilannya ngga memakan waktu lama kog, kira2 satu jam saja jika bapak sudah datang di BPN pada pagi hari banget. (berbarengan dengan jam buka BPN yang jam 08.00 WIB).

    semoga informasi ini berguna, dan semoga berhasil … ;)

  12. Rahayu on said:

    Pagi mas Yudi,

    Rencananya saya mau membeli sebuah rumah, tapi berhubung dana yang saya miliki tidak mencukupi untuk melunasinya, saya akan mengajukan pinjaman melalui bank setempat.

    yang menjadi pertanyaan saya,

    1. Mungkinkah balik nama sertifikat bisa di lakukan apabila pembayaran atas tanah tersebut belum lunas?
    2. Apa perbedaan apabila saya mengagunkan sertifikat yang telah di balik nama menjadi nama saya,dengan mengajukan KPR biasa?

    mohon bantuannya.

    regards
    Rahayu

  13. yudhiapr on said:

    selamat pagi juga bu Rahayu ..

    saya coba bantu untuk menjawabnya bu

    1. dasar awal pembiayaan KPR itu adalah kita meminjam ke pihak bank pemberi KPR untuk ‘melunasi’ pembelian dari rumah yg kita idam2kan. baik itu rumah dalam bentuk awal (dari developer) maupun sudah tangan kedua maupun kesekian. jadi jika ibu melakukan akad KPR, pada prinsipnya ibu bekerja sama dengan pihak bank, bukan ke pihak penjual rumah tersebut (baik developer maupun perorangan).

    jadi dalam kasus ibu ini, rumah yg ibu idam2kan itu (jika disetujui) nanti akan ‘dibayar’ lunas oleh pihak bank kepada penjual rumah tersebut, dan ibu membayar cicilannya ke pihak bank. jadi sudah seharusnya rumah tersebut ‘dibalik namakan’ atas nama ibu, tapi dijadikan anggunan ke pihak bank melalui APHT (akta pemberian hak tanggungan). setelah cicilan ibu bener2 lunas ke pada pihak bank, maka langkah selanjutnya adalah menghapus APHT atas sertifikat ibu tadi dengan menggunakan cara Roya seperti yg saya jelaskan pada artikel diatas.

    2. pada dasarnya pihak bank akan membalik namakan sertifikat tersebut atas nama ibu, karena pihak bank tidak ada urusannya lagi dengan penjual awal, istilahnya dia udah bayar lunas kepada pihak penjualnya, dan sertifikat dan rumah otomatis ‘pindah’ ke tangan bank, karena proses jual beli telah selesai dari sisi bank dengan pihak penjual. nah selanjutnya pihak bank akan melakukan proses KPR kepada ibu.

    semoga membantu dan mohon maaf jika ada yg kurang informasinya.

  14. Rahayu on said:

    Penjelasannya sangat memuaskan.
    thanks alot.

  15. Zul Amri on said:

    Selamat Pagi pak salam kenal
    saya mau tanya pak belum pengalaman, kemarin itu saya dan istri tanda tangan pencairan Kredit KPR di niaga depan notaris juga, kok AJB aslinya No 3 saya ngak dapat ya pak apa ditahan bank semua.saya cuma dapat salinan pencairan kredit dg jaminan rumah di perumahan x,, kredit di bank saja.Zul

  16. yudhiapr on said:

    selamat siang pak zul,
    untuk AJB asli sepertinya ditahan oleh bank semuanya. nanti waktu pelunasan, kita harus cek dan minta ke pihak bank. list dari dokumen2 apa saja, seperti yg saya tulis diatas (secara garis besar nya).

  17. Jaka on said:

    Selamat siang,

    Saya mau tanya Pak, saya sudah tanda jadi uang muka pembelian 1 unit rumah, tetapi ternyata rumah tersebut belum ada sertifikat HGB nya (Masih dideveloper sedang proses pemecahan). Nah pemilik pertama menawarkan langsung dibuatkan SHM atas nama saya sendiri dengan biaya yg lumayan besar -+ 15 jt. Apakah lebih baik saya menunggu saja sampai HGB tersebut keluar, lalu melakukan AJB dengan pemilik pertama. Atau langsung proses dengan Pihak pertama dan developer.

    Terimakasih sebelumnya

  18. yudhiapr on said:

    @pak Jaka :
    wah lumayan juga ya pak biaya nya …
    btw. luas rumah dan tanahnya berapa ya pak?

    sepertinya itu developernya ‘agak nakal’ ya pak … dia ngga mau modal di awal dan masih ada biaya2 siluman lainnya setelah rumah dibeli.

    kalo berdasarkan pengalaman saya dulu, untuk biaya mecah sertifikat dan ngubah ke Hak Milik hanya 300 rb saja (tahun 2002) untuk rumah tipe 36 luas tanah 121.

    mungkin rekan2 yang lain bisa membantu untuk informasi biaya pecah sertifikat itu berapa sekarang ini. maaf saya kurang paham mengenai hal itu.

  19. anas on said:

    slamet siang pak yudhi,

    saya mau tnya pak, orang tua saya punya rumah dan tanah d sumbar rencana mau saya tapi sertifikat kan karna saya masih awam dengan urusan sertifikat rumah dan tanah dan orng tua saya pun cuma ada surat jual beli (kwitansi) saja,jadi mohon info nya untuk langkah2 dan persiapan apa yang haru saya lakukan agar rumah dan tanah tersebut bisa d sertifikat kan (ada legalitasnya) pak yudhi…mhon infonya

  20. agung-karawang on said:

    Bos sy mau nanya nih….

    kemaren sy ke BTN setelah 6 thn KPR rencana mo minta copy sertifikat buat urus PBB, tapi alangkah kaget..sertifikat-nya belum ada??
    kok bisa? terus sy harus bagaimana? pihak btn (petugas) hanya diam saja…
    jadi bingung…saya.

    mohon pencerahannya yah boss, makasih sebelumnya.

    salam,

    agun/krw

  21. yudhiapr on said:

    @p.anas : untuk pertanyaan bapak, semoga artikel berikut bisa sedikit memberikan pencerahan ya pak .. ;)
    http://irmadevita.com/2007/bagaimana-cara-mensertifikatkan-tanah-girik

    @agung : wah .. sepertinya itu sertifikat belum dipecah ama pihak developer ya? jadi masih jadi satu untuk seluruh tanah itu. semoga artikel berikut ini bisa sedikit memberikan pencerahan ya ..
    http://hermansah.wordpress.com/2008/12/03/perhatikan-status-tanah-sebelum-beli-rumah/

    • dewi on said:

      pak yudhi, saya mau tanya, apa benar selama proses kpr, konsumen hanya memegang surat akad kredit saja? Karena kebetulan sy mengambil kpr, yg trnyata rmh tsb memiliki 2 sertifikat (ktnya sdg proses pemecahan), dan smp 6 bln mengangsur, sy tidak memegang copy surat apapun, kecuali akad kredit, sementara yg pernah saya dgr, konsumen berhak dpt copy ajb sbagai bukti kepemilikan smp kpr lunas. Jd yg mana yg bener y pak..mohon informasinya..terimakasih

      • yudhiapr on said:

        @Bu Dewi : memang betul bu, kalo masih proses kredit (hutang) yg kita pegang hanya AJB (akad jual beli), sedangkan sertifikat asli nya ‘ditahan’ oleh pihak bank sebagai jaminan. untuk copy sebenernya boleh kog bu minta ke pihak bank nya, tinggal ibu baik2 saja minta ke mereka, insya Allah dikasih. toh yg kita minta copy nya saja, untuk make sure bahwa sertifikat tersebut aman dan telah atas nama sesuai dengan semestinya.

  22. Sigit prast on said:

    Mohon saran pak, kebetulan saya juga mau meroya rumah saya di bekasi yang udah lunas. Pada saat itu saya transaksi dengan KTP asal saya yaitu jogja. Sekarang saya sudah tinggal dirumah tersebut (bekasi). Nah apakah perpindahan alamat/gabti KTP harus balik nama juga.
    Terima kasih

    • yudhiapr on said:

      minta bantuan pihak bank saja, yg disesuaikan dengan KTP semestinya (saat ini) dan menjelaskan bahwa alamat bapak sebelumnya ada di jogja. semoga membantu informasi saya ini.

  23. toni on said:

    Salam kenal,

    Pak saya mau menjual rumah saya kepada x. Oleh x akan di kpr kan ke bank y. Jika disetujui oleh bank y, kapan sertifikat asli harus diberikan pada bank? sebelum atau sesudah menerima pembayaran?

    Atas bantuannya saya haturkan terima kasih

    • yudhiapr on said:

      sertifikat asli akan ‘ditahan’ oleh bank pada saat terjadi akad jual beli dihadapan notaris. jika pihak pembeli sekaligus meminta balik nama, maka saat itu pula akan terjadi proses balik nama dihadapan notaris sekalian. nanti setelah itu uang akan cair dan di transfer ke rekening bapak (penjual).

  24. Didi on said:

    selamat siang pak yudhi.

    saya ada 2 pertanyaan, mohon pencerahannya.

    1. saya pernah mengambil rumah lewat KPR BTN, alhamdulilah saya sudah lunaskan, setelah saya lunaskan sertifikat rumah tersebut masih SHGB, kemudian saya langsung rubah ke SHM lewat Notaris, pertanyaan saya, apakah hal tsb ada Roya nya yg perlu di urus?, mohon pencerahannya, karena saya masih awam dengan hal roya.

    2. pada saat ini saya ingin membeli kembali rumah second. sudah di DP.
    ternyata pemilik rumah menagunkan SHM nya ke Bank. dia bilang akan di lunasi dulu, agar SHM nya bisa di ambil dari bank, pertanyaan saya apa ada roya yang perlu di urus?

    • yudhiapr on said:

      Pak Didi,
      terima kasih atas perhatiannya.
      1. surat roya itu pada dasarnya adalah ‘membalik namakan’ dari sertifikat yg sebelumnya dianggunkan ke pihak bank ke nama sebenarnya sesuai dengan yg tertulis di sertifikat. jadi bapak bisa lihat di bagian lembar perpindahan nama di sertifikat bapak. jika di baris terakhir tersebut masih atas nama bank pemberi kredit atau yg lainnya, maka ‘surat roya’ dan proses roya akan tetap dibutuhkan.

      2. iya diperlukan juga, tapi itu ada di pihak penjual, bukan di pihak bapak.

      semoga berkenan atas jawaban saya diatas.

  25. Didi on said:

    Terimakasih sebelum nya.

  26. Gunawan on said:

    Dear Pak Yudhi

    Mohon sharingnya Pak
    Saya ada pengikatan KPR dg Bank Mega di 2007, karena bunga yg cukup tinggi sy ada rencana mo pindah ke bank lain di 2009, dan salah satu persyaratan bank lain sertifikat yg sdh pecah atas nama saya, Lalu saya tanya ke developer …. MASIH INDUK (belum pecah). Pada nov 2011 saya tanya ternyata masih dalam proses…

    Yang jadi pertanyaan saya, berapa lama proses pemecahan sertifikat ?
    Dan tolong infonya juga prosesnya dari awal sampai jadi pemechannnya…?
    Mohon sharingannya PAK YUDHI

    Terima kasih atas perhatiannya

    • yudhiapr on said:

      Pak Gunawan,
      untuk proses pemecahan sertifikat induk bisa berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah lainnya. bapak mungkin bisa cross check langsung ke pihak BPN terdekat di kota bapak.

  27. qrist on said:

    syarat-syarat pengurusan roya jika hak pemegang sertifikat sudah meninggal bagaimana pak? apa yang harus dipenuhi syarat2 selain yang diatas?
    makasih

    • yudhiapr on said:

      Pak Qrist,
      untuk pengurusan roya terhadap sertifikat hak milik dari orang yg sudah meninggal akan menganut sistem ahli waris dan segala macam nya. Bapak bisa menghubungi notaris terdekat untuk meminta bantuan dan penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini.

      semoga jawaban saya ini membantu bapak.

  28. wawan on said:

    Yth. Pak Yudhie,

    Saya baru saja mendapat dokumen-dokumen tsb dari bank, saya juga ingin mengurus roya tersebut, tetapi IMB saya belum terima, dikarenakan belum diserahkan oleh developer.
    Apakah IMB diperlukan dalam proses roya tersebut pak ? mohon informasinya, terima kasih.

    • yudhiapr on said:

      Pak Wawan,
      IMB dibutuhkan oleh pihak BPN sebagai dokumen pelengkapnya pak. jadi sebaiknya dokumen ini dilengkapi agar tidak bolak-balik prosesnya.

      demikian.

  29. ahmad on said:

    bos mw nanya nehh…
    rencnanya sya mw beli rumah daerah bekasi tapi sertifikatnya HGB..
    yang mw saya tanyakan adalah apakah sya bisa mengurusnya menjadi hak milik? atau sya hrus menunggu smpai kpr saya lunas. dari pihak developer menjanjikan bisa, ketika wktu sblm akad kredit sya bebicara dengan notarisnya….
    mohon pendapatnya…..

    • yudhiapr on said:

      Pak Ahmad,
      untuk proses pergantian dari SHGB menjadi SHM bisa diproses dengan bantuan pihak notaris. dan bapak bisa memprosesnya ditengah jalan dari proses hutang. tapi biasanya akan diminta sertifikat asli nya dan prosesnya bisa memakan beberapa hari (minggu). jadi sebaiknya bapak bekerja sama dengan pihak bank serta pihak notaris untuk hal ini, karena sertifikat ‘harus keluar’ dari bank.
      itu sebabnya orang2 biasanya menunggu lunas dulu, baru dilakukan peningkatan status dari SHGB menjadi SHM.

      demikian semoga membantu bapak penjelasan saya ini.

  30. gishella on said:

    Maaf Pak…
    Mau tanya nie….

    Jika saya ??? membeli properti, tapi sertifikat ?a?? dimiliki ,ternyata tidak ada sertifikat IMB…

    Saya jujur tidak mengerti tentang jual beli properti…

    Apakah akan bermasalah jika saya membeli properti tersebut jika tidak memiliki sertifikat IMB?

    Dan bisa Bapak jelaskan fungsi / kegunaan dari sertifikat IMB tsb…

    Thanks… :)

    • yudhiapr on said:

      Bu Gishella,
      IMB itu ibaratnya SIM dari seseorang jika ingin mengendarai sepeda motor. jadi jika tidak ada IMB dan ternyata ada bangunan diatas sebidang tanah walaupun itu ada sertifikatnya, maka akan bisa menjadi masalah dikemudian harinya.
      bagaimanapun juga, segera urus IMB secepatnya.

      sebagai contoh :
      IMB adalah SIM
      Sertifikat tanah adalah STNK nya.

      semoga analogi sederhana saya diatas bisa sedikit diterima dan dimengerti oleh ibu.

  31. surya12@yahoo.com on said:

    alhamdulillah dapet pencerahan disini, barusan ambil SHM di BII dan besok pagi2 rencana urus roya ke BPN, untung browsing di internet dapet info sangat berguna dari pak yudhiapr, Makasih banget pak, cendol ijo untuk anda hehehe

    • yudhiapr on said:

      Terima kasih juga Pak Surya jika pengalaman saya diatas bisa bermanfaat bagi bapak2 dan ibu2 sekalian. ;-)
      maaf disini saya ngga punya kulkas, jadi ngga bisa ngecek cendol nya .. hehehehe :D

  32. raja on said:

    Pak yudhi saya mau tanya dulu sebelum krisis moneter sekitar tahun 1997 saya lunaskan kredit perumahan saya di Bank Papan. Dan saat ini diserahkan keterangan lunas,surat roya,akta hipotik, dan SHM asli. Nah skrng samapi tahun 2011 saya belum juga meroya sertipikat tersebut.. Apakah masi bisa di roya sertipikat tersebut?

    • yudhiapr on said:

      Pak Raja,
      sebaiknya bapak coba dulu untuk mengajukan roya ke BPN dimana sertifikat bapak dibuat. semoga saja ‘masih berlaku’ surat roya tersebut. kecuali didalam surat roya tersebut ada ‘masa kedaluarsanya’.
      jika hal tersebut terjadi, sebaiknya bapak menghubungi notaris terdekat untuk meminta bantuannya.

      semoga jawaban saya berkenan untuk bapak.

  33. dian on said:

    salam kenal mas yudhi..

    saya mau tanya..klo nama pemilik dalam Sertifikat Hak Milik sebuah rumah dibolehkan lebih dari 1 nama? seandainya pemilik 1 rmh itu ada 4 (empat), nama ke-4 nya bisa dicantumkan semua dalam sertifikat?

    mksh sblmnya atas jawabannya.
    sbnrnya sy ada pertanyaan tambahan yang agak panjang..bisa konsultasi via email?

    • yudhiapr on said:

      Mbak Dian,
      untuk sertifikat sebaiknya menggunakan 1 nama saja, hal ini untuk mempermudah urusan dikemudian hari jika terjadi apa-apa. tapi jika terlanjur atas nama banyak orang / rame2 / biasanya adalah tanah warisan, sebaiknya dipecah dengan masing-masing punya nama sendiri2 di masing2 bagian sertifikatnya.

      semoga jawaban saya diatas berkenan untuk mbak Dian.

  34. nursasih on said:

    saya punya tanah di tenjo ingin sekali disertifikatin atau sekarang kan ada program LARASITA da yg bisa bantu ga menjelaskan n berapa sih biaya maksimal kalau luasnya 4480 m2 trus yang ada cuma aktae jual beli aja soalnya pinggiran kota banget
    thank atas informasinya

    • yudhiapr on said:

      Ibu Nursasih,
      untuk penghitungan lebih lengkapnya, bisa bisa langsung ke BPN terdekat bu, mereka akan sangat welcome dan siap membantu pengurusan prosesnya.

      semoga berkenan jawaban saya diatas.

  35. Petrus on said:

    Salam kenal Pak Yudhi….
    hari ini sy dah Lunas dan ambil sertifikat hak milik rumah saya yang dijaminkan ke Bank…..
    Saya dah “dibekali” 2 Surat (Surat Pengantar Roya ke BPN dan Surat Bukti Lunas)….
    Haaaaa…kalo melihat syarat2 Roya seperti yg dipaparkan Pak Yudi banyak sekaleee….
    Kalo dokumen yg dah siap skrg :
    1. Sertifikat Hak Milik Asli
    2. Surat Pengantar Roya dari Bank
    3. Surat Bukti Lunas Kredit
    4. KTP
    Apakah dokumen yg lain memang harus dilengkapi?
    Matur Nuwun Pak

    Salam Gudeg Jogja

    • yudhiapr on said:

      Pak Petrus yang berbahagia,
      selamat telah lunas proses kreditnya.
      dokumen lainnya sebaiknya disiapkan dan juga telah dicopy ya pak.
      karena di BPN nanti akan ditanyakan sebagai dokumen pelengkap biasanya.

      demikian.

  36. jiadi on said:

    Salam kenal juga mas Yudhi

    saya ada pertanyaan yang agak jarang x, saat ini saya mempunyai rumah yang sedang berjalan dibank BRI sudah berjalan 3tahun lebih, tapi saya mempunyai kredit macet dibank lain! dan saat ini saya mau jual rumah tersebut, tapi yang mau beli melalui KPR juga Atau Take Over gitu…
    Yang saya mau tanyakan apakah nanti waktu take Over adah timbul masalah?
    mohon infonya pak Terima kasih

    • yudhiapr on said:

      Pak Jiadi,
      biasanya sebelum proses kredit cair terhadap pihak pembeli, bank akan melakukan proses cek dan ricek, baik dari sisi penjual dan pembeli. proses take over yg akan bapak lakukan diatas kemungkinan besar akan sedikit mengalami hambatan terkait dengan kredit macet bapak diatas.

      saran saya, sebaiknya bapak selesaikan dulu permasalah kredit macet bapak diatas terlebih dahulu untuk ‘membersihkan’ nama bapak dari mata pihak bank.

      demikian semoga berkenan.

  37. evelinerusly on said:

    Pengambilan surat Roya bisa diwakilkan gak ya? dengan melampirkan surat kuasa misalnya? Tks

    • yudhiapr on said:

      Bpk / Ibu Evelinerusly,
      untuk pengambilan surat roya bisa saja diwakilkan, tentu saja dengan surat kuasa diatas materai secukupnya serta fotokopi KTP dari pemilik aslinya.

  38. Sandhi on said:

    Mas Yudhi
    Saya konsumennya BNI Griya sejak May 2007, ada hal yang saya tanyakan ;
    1. Berapa lama foto copy sertifikat dapat diberikan ke konsumen sejak akad kredit ?
    2. Apakah ada ketentuannya kewajiban Bank untuk mengurus sertifikat dalam waktu tertentu ?

    BNI baru memberikan foto copy sertifikat rumah saya pada bulan Maret 2012 setelah saya komplaint sejak Desember 2010 karena saya niat untuk melunasinya.

    Mohon responnya yaa.
    Terima kasih

    • yudhiapr on said:

      Bpk. Sandhi,
      masing-masing bank mempunyai proses yg berbeda-beda. sebenernya pada saat terjadi akad kredit, sertifikat tersebut seharusnya telah di proses oleh pihak notaris, dan yg asli nya sudah langsung ‘ditahan’ oleh pihak bank tidak begitu lama dari proses akad kredit pertama kali, biasanya 1 bln hingga 2 bln sertifikat asli sudah berada di pihak bank.

      kenapa pihak bank ‘mempersulit’ memberikan fotokopi dari sertifkat tersebut? Pak Sandhi mungkin bisa melakukan pendekatan terhadap pihak bank nya dengan baik2, karena masing2 bank mempunyai kebijakan dan peraturan berbeda-beda.

      demikian semoga bisa membantu.

  39. lestari dewi wahyu on said:

    MALAM PAK…
    saya mau bertanya apakah dengan surat roya ini kita bisa meminjam ke bank… trus saya dulu pernah meminjam ke bank dengan cara over kredit dan di saat pencairan saya langsung melunasi pinjaman saya ke bank sebelumnya, dan borohan saya tidak bisa di terima di saat itu… apakah pinjaman saya sah demi hukum pak??

    • yudhiapr on said:

      Ibu Lestari,
      Surat roya tidak bisa dijadikan jaminan terhadap bank, yg bisa dijadikan jaminan adalah Sertifikat Asli dari tanah / rumah tersebut.
      untuk peminjaman over kredit, biasanya pihak bank akan meminta jaminan tambahan, bisa berupa sertifikat rumah lainnya ataupun barang berharga lainnya (misalnya emas, BPKB ataupun yg lainnya) senilai dari pinjaman yg diajukan.

  40. dedy on said:

    terima kasih banyak atas info nya ya gan .. jadi saya lebih mengerti dan lebih jelas.

  41. rico on said:

    mo tanya pak Yudhi

    aye ad tunggakan cc ampir 2 taon,n msi dlm thp nego pelunasan.

    rumah atas nama berdua (nama abang n aye) dah masukin k bank (ajuin kredit agunan rumah) 15 taon,tpi berjalan 2 taon tpi ud dilunasin bulan kemaren.

    waktu ajuin kredit agunan rumah debiturna abang (lagipula itu waktu aye belum masalah dengan cc).

    sekarang pembeli rumah ajuin roya ke BI kenapa mandek ya (padahal semua prosedur ud beres). apa gara2 tunggakan cc aye yg msi dlm negosiasi pelunasan?

    mohon banget dibantu jawab sebab pembeli rumah ud ga sabar.

    terima kasih:Yb

    • yudhiapr on said:

      Pak Rico,
      masing2 bank mempunyai proses dan peraturan sendiri2 terhadap pengajuan kredit ataupun pelunasannya. kemungkinan besar waktu dilakukan crosscheck ke Bank Indonesia, nama Bapak masuk ke dalam daftar ‘blacklist’ karena tagihan CC yg belum selesai tadi.

      saran saya, sebaiknya ‘dibersihkan’ terlebih dahulu urusan CC bapak, karena bagaimanapun juga nama bapak tercantum didalam sertifikat rumah tersebut.

  42. Myra on said:

    Saya mau roya tapi kok biayax mahal banget 2 sertifikat Rp.550.000,- pakai aturan apa ni BPN?

  43. emay on said:

    Wah.. terimakasih banyak informasi nya ya Pak… sangat sangat berguna sekali.. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>