Mengurus SIM di Polsek Bogor cukup gampang sekarang

polres
Kalau tidak “sedikit terpaksa” malas rasanya harus mengurus SIM. Bayangkan dari kelas 3 SD sudah bisa bawa sepeda motor (dengan paman yang siap-siap bila harus berhenti, maklum kaki belum sampai ke tanah) kemudian kelas satu SMA sudah belajar menyetir mobil, tapi tidak pernah diminta membuat SIM.

Susah juga jadi anak “Pejabat”, bila kena tilang mereka melongok ke Nopol dan langsung manggut-manggut sendiri sembari berkata : ”Hati-hati ya Dik, lain kali jangan diulangi!” dan saya dilepas begitu saja….. (walahhh… saya tidak meminta perlakuan khusus seperti itu lho Pak..).
Dengan diantar suami, akhirnya mau juga saya menjejakkan kaki di kantor Polsek Bogor. Baru pukul 08.30 WIB tapi antrian yang mengurus SIM sudah mengular. Saya mengambil Map kosong dulu di loket (map disediakan gratis), selanjutnya saya ke tempat pemeriksaan kesehatan.

Jangan lupa mengambil nomor urut (saya dapat nomor 47 padahal masih pagi loh). Siapkan satu lembar fotocopy KTP dan uang Rp 15.000,00. Dimasukkan ke dalam Map kosong tadi. Begitu nomor 47 dipanggil, saya masuk langsung ditimbang berat badan dan diukur tinggi badan. Di meja terdapat 3 kartu untuk test buta warna, anda tinggal menyebutkan angka apa yang terlihat pada masing-masing kartu lalu petugas mengambil map anda dan menyertakan form hasil test kesehatan.
Selanjutnya saya ke bagian ujian praktek. Map saya serahkan kepada petugas dan duduk lagi sambil menunggu giliran dipanggil ujian praktek. Petugas menjelaskan tata cara ujian praktek sebagai berikut :

  1. Ada 3 jenis motor yang disediakan yaitu motor besar, motor Honda Revo dan motor matic Mio
  2. Jalur pertama adalah jalur lurus sempit, kemudian zig zag dan terakhir jalur 8 melingkar dua kali
  3. Tidak boleh ada kesalahan dalam melintasi jalur serta kaki tidak boleh diturunkan; bagi peserta uji laki-laki kesempatan hanya satu kali, bila kaki diturunkan langsung gugur. Sedangkan bagi peserta uji perempuan diberi kesempatan sampai 3 kali.
  4. Petugas memperagakan ujian praktek dengan mengendarai motor Revo, kelihatannya mudah hehe… tapi menurut pengalaman Petugas hanya 20% yang bisa langsung lulus ujian praktek ini.

Memang tidak semudah seperti terlihat ketika peserta menjajal sendiri kemampuannya di lapangan. Beberapa lulus, beberapa gagal dan yang membuat nyali ciut belum satu pun peserta perempuan ada yang lulus walau diberi 3 kesempatan mengulang. Jalur zig zag adalah yang tersulit sepanjang pengamatan saya. Hal ini membuat saya teringat komentar seorang ibu di blog nya, menurut si ibu apa untungnya jalur zig zag ini, memangnya kita mau disuruh konser sirkus, hehehe..
Ups.. terlalu asyik mengingat blog itu membuat saya hampir tak memperhatikan ketika nama saya dipanggil Petugas. Saya diberi nomor peserta berwarna hijau yang harus dikalungkan sebelum mulai ujian. Saya memilih Honda Revo dan pelan-pelan meluncur di jalur lurus dengan gigi dua. Aman.

Saya berhenti sebentar untuk bersiap di jalur zig zag. Menarik napas dan mulai meluncur. Waduuhhh… pada belokan kedua saya merasa oleng, terlalu pelan sehingga otomatis kaki turun. Wah.. mengulang lagi deh. Saya juga melihat Petugas memberi tanda agar saya mengulang dari awal di jalur zig zag. Saya bersiap lagi kali ini sambil menenangkan pikiran. Oke meluncur lagi.. pelan, belok, agak digas, belok lagi terus seperti itu hingga akhirnya ujung jalur zig zag bisa saya lampaui. Aman.

Tinggal jalur 8 yang menurut saya mudah. Hupsss…. Alhamdulillah saya peserta wanita pertama yang lulus ujian praktek hari ini… yihaa..
Map saya ditulisi LULUS oleh petugas dilengkapi form ujian praktek dan test kesehatan, saya diminta menunggu di Loket 3 untuk mengikuti Ujian Teori. Di depan loket pengantri sudah banyak sekali, ternyata mereka ada yang “remedy” atau peserta yang mengulang karena tidak lulus ujian teori sebelumnya.

Ada yang sudah 3 kali ujian. Saya menciut lagi, apakah sulit ya soal-soalnya? Saya mendengarkan suami yang sudah pernah ujian seperti ini, juga mengingat-ingat pelajaran tentang rambu-rambu semalam.

Nama saya dipanggil lagi setelah menunggu sekitar 40 menitan. Saya menuju ruang ujian teori dimana tersedia 40 kursi bernomor. Bila ingin mengambil SIM A maka pilihlah duduk di sebelah kiri dan nomor kursi A. Bila ingin mengambil selain SIM A, pilih duduk di sebelah kanan dan nomor kursi B.

Saya duduk di kursi 18 B. Tersedia 4 tombol di kursi dengan label A, B, C dan Reset. Waktu disediakan 30 menit untuk menjawab 30 soal. (Contoh soal-soal bisa dicari di google). Soal ujian terbagi menjadi 2 layar, layar kiri untuk ujian SIM A dan layar kanan untuk ujian SIM C. Awal berjalan lancar, saya menjawab dengan baik, namun dipertengahan saya cukup terganggu dengan peserta di belakang saya.

Berkali-kali handphone si Bapak berbunyi. Entah pada dering keberapa, baru dijawab sambil berbisik “Saya lagi ujian”.. Waktu ujian usai, dengan kesal saya menengok tapi Petugas sudah menegur duluan “Lain kali handphonenya dimatikan saja Pak, mengganggu yang lain”.

Saya mengiyakan dalam hati. Hasil ujian langsung kelihatan di layar, dan …………. Nilai ujian saya hanya 50… Dari 40 orang peserta hanya 4 yang lulus. Batas lulus adalah 60. Terpaksa mengulang 2 minggu lagi. Saya diberi secarik kertas untuk dibawa sebagai bukti.
Ujian remedy kedua, saya mendapat nilai 90.. yess.. lulus. Soalnya menurut saya lebih mudah dibanding ujian teori yang pertama. Namun tetap saja yang lulus minim, yang satu ruang dengan saya hanya 7 orang yang lulus. Saya tinggal mengisi form dengan nama, alamat, tanggal lahir dan seterusnya, lalu ke loket 1 untuk membayar.

Aturan per 2011 ini untuk SIM C baru membayar Rp 100.000,00 sedangkan perpanjangnya membayar Rp 75.000,00. Untuk SIM A (SIM B dst) baru membayar Rp 120.000,00 sedangkan perpanjang membayar Rp 80.000,00.
Setelah mendapat bukti pembayaran, form dan map saya antar ke loket 4 tempat memasukkan data. Saya difoto dan diambil sidik jari serta tanda tangan. Selesai. SIM C saya keluar tepat pada tanggal 11-1-11. Pada saat akan mengambil SIM C yang sudah dicetak, anda bisa mengatakan tidak ikut asuransi dan tidak perlu lagi membayar Rp 30.000,00 untuk asuransi.

Ngga perlu pake calo khan ?? Selamat mencoba dan semoga berhasil … ;)

Keyword :

  • bikin sim di bogor
  • pembuatan sim bogor
  • pembuatan sim di bogor
  • sim bogor
  • tempat pembuatan sim di bogor
  • buat sim bogor
  • bikin sim bogor
  • calo sim bogor
  • tempat membuat sim di bogor
  • buat sim di bogor
Share on Facebook22Share on Google+0Share on LinkedIn0Tweet about this on Twitter0Email this to someone

About the author

Loly A. Munjalindra is a Senior HRD Consultant, training and all about Human Resource. She loves to read and write all stuff about mystery and detective world. She writes articles about HR, people relationship with company and some other fields and share through this blog.