<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Munjalindra.com</title>
	<atom:link href="http://munjalindra.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://munjalindra.com</link>
	<description>Tips, trik, update tentang fotografi, teknologi dan kehidupan sehari-hari - Munjalindra.com</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Apr 2013 07:00:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Bunga Biru</title>
		<link>http://munjalindra.com/2013/04/17/bunga-biru.html</link>
		<comments>http://munjalindra.com/2013/04/17/bunga-biru.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Apr 2013 07:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kancil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://munjalindra.com/?p=1111</guid>
		<description><![CDATA[Kudedikasikan untuk sahabat masa kecilku &#8220;Damailah disana, derita tak sanggup lagi menyentuhmu&#8221; Di sisi pusaramu ini, aku berdiri. Tak percaya memandang kayu nisan terpancang. Deret tulisan tinta hitam sederhana. KAMAIYAH 12 Mei 1973 &#8211; 10 Juni 1987 Satu tahun berlalu dalam penyesalan. Berita duka ini sangat terlambat kuketahui. Tinggal berdiri diam menatap gundukan tanah kapur [...]<div class='yarpp-related-rss yarpp-related-none'>

No related posts.
</div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/166068_328096167279308_964446202_n.jpg"><img class="alignright size-large wp-image-1124" alt="166068_328096167279308_964446202_n" src="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/166068_328096167279308_964446202_n-400x277.jpg" width="400" height="277" /></a>Kudedikasikan untuk sahabat masa kecilku</p>
<p><i>&#8220;Damailah disana, derita tak sanggup lagi menyentuhmu&#8221;<br />
</i></p>
<p>Di sisi pusaramu ini, aku berdiri. Tak percaya memandang kayu nisan terpancang. Deret tulisan tinta hitam sederhana.</p>
<p><b>KAMAIYAH</b></p>
<p><span style="font-size: small;">12 Mei 1973 &#8211; 10 Juni 1987 </span></p>
<p>Satu tahun berlalu dalam penyesalan. Berita duka ini sangat terlambat kuketahui.</p>
<p>Tinggal berdiri diam menatap gundukan tanah kapur bercampur pasir serta koral. Makam yang terletak tak jauh dari pantai.</p>
<p>Serumpun semak tanaman alur tumbuh tak jauh dari makammu, sahabat. Bunga biru indah itu menyeruak di satu tangkai.</p>
<p>Airmata berguguran sudah, menangkap kisah di balik tanaman alur ini. Kisah persahabatan yang mengharu biru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di pasar, pagi telah meninggi. Keadaan semakin penuh sesak dengan banyaknya orang yang berdatangan ingin berbelanja keperluan.</p>
<p>Aku bergegas segera menuntaskan belanjaanku yang sudah dipesankan mama. Kulihat lagi daftar belanja di secarik kertas, masih harus membeli setengah kilo bawang merah, tomat, cabe, tauge &#8230;&#8230;&#8230;. <i>dukkkkkk&#8230; auchhhhh</i>&#8230; Terlalu asyik melihat daftar, langkahku menabrak ibu-ibu gemuk di depanku.</p>
<p>Ibu gemuk itu berbalik, secepat kilat aku memohon maaf atas kelalaianku. Tapi si ibu diam lama. &#8220;Lily yo nduk? MasyaAllah.. !! Suwe ora petuk Nduk, kemana saja?? Ingat Iyah ngga nak, sudah dengar kabarnya?&#8221; justru kata-kata bertubi yang kudengar. &#8220;Iyah sudah meninggal, kok ngga datang waktu itu? atau memang tidak ada yang mengabari?&#8221; Kali ini si ibu memandangku lekat-lekat. Barulah aku ingat, ibu ini tetangga Iyah dulu. &#8220;Iyah meninggal, Bu, kapan?&#8221; tanyaku tak percaya. &#8220;Sudah setahun Nduk&#8230;, Ibu juga sedih dia masih muda sekali, tapi usia kan rahasia Ilahi,&#8221; si Ibu berkata pelan. Setelah menanyakan dimana Iyah dimakamkan, barulah kami berpisah.</p>
<p>Tiada jemu aku melintas di depan rumahnya dengan sepedaku. Rumah itu tertutup rapat, pintu jendelanya. Tetangga di sebelahnya juga demikian.</p>
<p>Kemana engkau dan keluargamu pindah, Iyah? Itulah selalu pertanyaan yang menghantuiku. Aku berlalu dalam kekecewaan setiap rumah yang berdekatan kutanyai hanya memberi gelengan tak tahu. Semangat ini menyurut termakan panjangnya waktu yang berlalu.</p>
<p>Terkadang aku seperti melihatmu, berpapasan jalan dengan sepedaku. Kurem mendadak dan menoleh &#8220;Iyaaahhhhhhhhh&#8221;, teriakku kuat-kuat. Gadis mengayuh sepeda itu tak berpaling, rambut hitam tergerainya seperti rambutmu, hanya melambai mengejek kepadaku. Usai sudah asa tuk bertemu lagi. Setahun berlalu.</p>
<p>Kukayuh sepeda perlahan menuju perjalanan pulang ke rumah. Teman-teman se SMP ku mengayuh sepedanya mendahuluiku.</p>
<p>Dari guru wali kelas aku diberitahu, Iyah tak akan lagi bersekolah. Berhenti begitu saja. Aku tak mempercayainya, tapi itulah kenyataannya.</p>
<p>Ibu guru bertanya kepadaku sebagai teman dekat Iyah, adakah hal lain dibalik alasan kesulitan ekonomi seperti yang disampaikan keluarganya kepada pihak sekolah. Kerongkonganku tersekat. Tak mungkin aku menyampaikan hal ini kepada orang lain, tidak juga kepada Ibu guruku.</p>
<p>Tak masuk sekolah lagi. Aku memandang kosong bangku di sebelahku. Telah beberapa hari, aku mencemaskannya. Sakitkah?</p>
<p>Mengapa tiada kabar? Tapi dia sudah melarangku datang ke rumahnya. Apa aku nekat saja? Toh, dia akan mendapat surat peringatan dari guru wali kelas juga, bila tak masuk 3 hari berturut-turut tanpa alasan jelas. Aku bisa mengarang cerita, banyak PR dan catatan pelajaran yang dia tinggalkan. Tentu dia senang bila sebagai sahabat, aku rela meminjamkan buku-buku catatanku. Larangannya lebih tepat sebuah peringatan keras terngiang lagi, memudarkan niat nekatku.</p>
<p>Ku parkir sepeda di sisi rumah, kugembok seperti biasa. &#8220;Iyahhhhh&#8230;. Kamaiyahhhhh!!&#8221; panggilku. Tak ada yang menyahut.</p>
<p>Pintu depan yang menganga, kumasuki tanpa banyak prasangka. Aku sudah biasa bertandang ke rumah ini, keluar masuk sesuka hati seperti di rumah sendiri.</p>
<p>Rumah ini kecil saja, bangunan dari batako bercampur gedhek (anyaman bambu). Langit-langitnya tanpa plafon, kamar-kamar hanya dipisah triplek yang tak sampai menjangkau langit-langit. Ruang tengah yang menyatu dengan ruang tamu, satu-satunya ruangan terluas di rumah itu kutemui pemandangan tak biasa di atas mejanya. Botol-botol berwarna gelap bergelimpangan sampai ada yang jatuh ke lantai. Bau alkohol menguar. Botol bir, siapa yang meminumnya?</p>
<p>Barang-barang selalu berantakan di rumah ini, karena tak terurus. Hanya sedikit lemari yang dipunyai untuk menampung barang-barang itu. Hari ini keadaan rumah jauh lebih semrawut dari biasa. Pakaian berhamburan, buku koran berserak, boneka dan mainan jelek tergolek disana-sini.</p>
<p>&#8220;Iyah?&#8221; panggilku ragu setelah langkah makin mendekat di ujung kamarnya. Kamar terjauh dekat dapur, kamar paling kecil dan gelap tak berjendela.</p>
<p>Seseorang beringsut di balik selimut, seperti terkejut akan kehadiran tamu asing. Hatiku lega melihat siluetnya. &#8220;Ngapain siiiiihhhh, siang-siang enak leyeh-leyeh&#8230; ayoooo banguunnnnnnn,&#8221; candaku sambil menarik ujung selimutnya. Tak kuduga dia menarik kencang selimut, &#8220;Jangan &#8230;&#8230;..!!&#8221; hanya kata lemah itu yang keluar dari mulutnya. Sejurus kemudian, aku terlonjak kaget karena dengan tak terduga Iyah bangkit menghambur keluar kamar. Aku refleks mengekorinya. Kudapati Iyah bersimpuh di kursi depan meja yang berserakan botol-botol bir, menelungkupkan wajahnya. Aku menunggu dalam diam. Keheningan. &#8220;Bapak tadi malam pulang&#8230;&#8221;, suaranya mulai terdengar. Pemahaman mulai merayapiku. &#8220;Minum lagi,&#8221; lanjutnya. Rambut panjang Iyah menyembunyikan wajahnya yang tertunduk. &#8220;Bapak memukuli aku dan ibu&#8230; Ly, minta semua uang kami&#8230; mengobrak-abrik barang, memaki ibuku&#8230;.hu hu hu&#8230;..,&#8221; tangisnya pecah sembari wajahnya terangkat menatapku. Aku memandang penuh kengerian bekas-bekas memar di pelupuk mata dan robekan di ujung bibirnya. Ada darah mengering disitu. Kupeluk tubuhnya yang terguncang-guncang. Aku menangis merasakan kepedihannya. Sesaat kemudian dia mendorongku. &#8220;Tolong jangan cerita ke siapa-siapa. Kamu harus berjanji ya Ly!&#8221; Iyah menatapku tajam. Setelah itu dia melarangku mengunjunginya.</p>
<p>Pulang sekolah, sehabis berganti pakaian dan makan siang aku pamit lagi untuk ke rumah Iyah. Alasanku bermacam-macam : bikin PR-lah, belajar kelompoklah, ada tugas .. pokoknya semua alasan agar aku bisa segera bertandang di rumah Iyah. Tak pernah membuatku bosan menyambanginya, karena setiap hari ada hal-hal baru yang aku pelajari dari keluarga ini. Hal-hal yang tak mungkin aku temui pada teman-teman sekomplek perumahanku. Siang itu Iyah akan mengajakku ke pelabuhan milik Petrokimia Gresik. Tadi pagi di kelas dia cerita tanpa sungkan padaku, tak ada lauk sayur untuk hari ini. Dia akan mencari <i>alur</i> untuk mengganjal perut teman nasi. Aku belum pernah mendengar mahkluk apa <i>alur</i> ini. Iyah tertawa geli. Apa mungkin sejenis ikan, kerang atau udang tanyaku. Asumsiku karena Iyah mengajak ke pelabuhan siapa tahu kami harus mencarinya di air. Tidak katanya tanpa menjelaskan lebih jauh. Maka dengan rasa penasaran, aku tak sabar menanti bel tanda waktu belajar usai.</p>
<p>Berbekal tas plastik, kami berdua berjalan beriringan ke pelabuhan Petro yang terletak agak jauh. Bau garam laut menyambut. Di kejauhan pulau Madura terhampar. &#8220;Kita ngga boleh masuk kesana, dilarang,&#8221; Iyah bergumam sambil menunjuk pagar tinggi yang selalu dikunci. &#8220;Kita ngga perlu kesana, nyari alur nya di sekitar-sekitar sini saja kok&#8221;, lanjutnya. Aku yang belum tahu apa persisnya yang harus kami cari, hanya mengikuti. Iyah melompat-lompat lincah di antara bebatuan kapur, pantai menjorok tapi masih jauh dari air laut. Dihampirinya serimpun tanaman. &#8220;Ini yang namanya alur Ly, &#8220;serunya. &#8220;Enak dibikin sayur urap,&#8221; Iyah berkata dengan tangan mulai memetiki tangkai-tangkai alur. Aku berjongkok mengamati perkerjaannya sambil mengulur tas plastik yang kubawa. Alur termasuk jenis tanaman semak. Ujungnya yang muda berwarna hijau, semakin tua berubah warna menjadi merah tua sebelum kemudian ungu. Aku tidak mengetahui lebih banyak soal tanaman sehingga tak bisa memberi definisi yang lebih baik. Setelah tahu apa yang dicari, aku juga mulai mencari gerumbulan alur yang lain. Tas plastik kami sebentar saja sudah penuh. &#8220;Iyahh&#8230; lihat yang ini berbunga&#8221;, aku melambai pada Iyah. &#8220;Cantiknya bunganya!&#8221; Aku memandang kagum bunga biru yang muncul di antara warna-warni daun alur. Tak jauh Iyah sedang berjongkok memetiki daun-daun alur yang lain. Aku berganti-ganti memandang Iyah dan bunga alur itu. Entah kenapa aku merasa mereka berdua memiliki persamaan. Mungkin sama-sama cantik dan pantas dikagumi, mungkin juga ada semacam kekuatan magis dari sekuntum bunga dan seorang gadis belia.. atau mungkin ada alasan yang belum kuketahui. &#8220;Apaan sih Ly, kok jadi bengong gitu?&#8221; Iyah menjjentik hidungku dengan gemas. Aku tersadar dan hanya bisa tergelak. &#8220;Sudah cukup, yuk pulang,&#8221; ajak Iyah.</p>
<p>Di rumah dengan cekatan ia mencuci alur dan merebusnya. Lalu memarut kelapa untuk urap. Aku membantu mengupas bawang dan bumbu-bumbu lain. Iyah dengan mahir menguleknya sampai halus. Terus terang aku tak pandai memasak tapi senang mengamati orang memasak. Di rumahku sudah ada kakak perempuan dan mama yang sering berada di dapur, ketambahan satu perempuan lagi pasti membuat penuh sesak dapur bukannya membantu. Kelapa parut dan bumbu dicampur lalu dikukus. &#8220;Ly ambil nasinya, sudah matang nih urap alurnya,&#8221; kata Iyah. Aku beranjak mengambil nasi. Tertegun-tegun mataku ketika membuka tutup panci nasi, hanya ada sedikit nasi disitu. Tak cukup dimakan berdua, padahal itulah jatah Iyah, ibunya dan satu adik perempuannya untuk sehari ini. Karena aku hanya berdiri lama, Iyah mendekati. Pandangan rasa bersalah tertangkap mataku, juga rasa malu. Nasi tak cukup, kenapa mengajakku makan? &#8220;Eehh&#8230; aku tadi sudah makan, jadi aku cuma mau nyicipin urapnya&#8221;, kataku canggung. Iyah kembali ceria. Dengan lahap dia makan. Menu nasi dan urap alur tanpa lauk.</p>
<p>Setiap hari begitu, pulang sekolah Iyah harus memasak makan siangnya sendiri. Lauk pauk sederhana. Tapi aku senang saja belajar bumbu ini itu dari Iyah. Menu andalannya tempe goreng dan sayur asem yang hanya terdiri dari labu siam dan kacang panjang. Paling sering sayur bening dan ikan asin. Jarang ada menu daging atau ayam goreng seperti di rumahku.</p>
<p>Selesai makan, Iyah membereskan rumah dengan menyapu dan mengepel lantai. Menguras bak mandi dan merapikan baju. Aku membantunya dengan suka hati. Bila tidak sedang membereskan rumah, dia mengerjakan pekerjaan lain yang lebih bertujuan untuk menambah penghasilan. Ini jenis pengalaman lain yang membuat aku kagum pada Iyah. Dia mengajariku membuat es mambo. Air gula yang diberi warna warni, kemudian dibungkus plastik bening dan ujungnya diikat karet. Hasilnya lalu dititipkan tetangga untuk dibekukan di kulkas. Tentu saja dia harus membayar biaya sewa kulkas untuk satu malam. Esoknya es mambo bisa dititipkan kepada warung-warung tak jauh dari rumah Iyah. Lain waktu aku melihat gunungan kain di tengah rumahnya. Ternyata itu baju-baju dari konveksi yang belum dipasangi kancingnya. Dengan upah borongan Iyah memasangi kancing-kancing baju itu. Ada-ada saja usahanya untuk mendapatkan uang. Sedikit demi sedikit ditabung untuk biaya sekolah dan belanja kebutuhan rumah.</p>
<p>Ibu Iyah, sebetulnya aku agak segan bercerita bagian ini. Wanita yang masih muda dengan tubuh padat berisi dan wajah yang cantik. Sering berbaju dan bercelana pendek. Anting bulat besar menghiasi telinganya. Dia menikah dengan seorang sopir truk. Tugas sebagai sopir antar kota menyebabkan aku jarang sekali melihat bapak Iyah di rumah. Iyah bercerita dia kadang bertemu bapaknya hanya setahun sekali atau dua kali. Jika sedang di rumah, bapaknya baik sekali pada Iyah. Dia dibelikan boneka, baju-baju dan makanan kesukaan. Aku sering melihatnya berharap agar cepat dapat bersua lagi dengan bapaknya. Pernah Iyah memperlihatkan foto seorang laki-laki bertubuh kekar. Tampangnya menurutku agak sangar, tapi menurut Iyah, bapaknya baik hati. Selain Iyah, ibunya memiliki satu anak perempuan lain yang masih berusia empat tahun. Wajah mereka yang sangat berbeda membuat aku curiga. Iyah lama-lama mengaku juga dia dan adiknya saudara satu ibu beda bapak. Pantas saja wajah Iyah tirus dan bermata agak sipit, sedangkan adiknya berwajah bundar bermata lebar. Rambut Iyah juga lurus sedangkan adiknya berombak. Iyah tak tahu dimana bapak kandungnya. Ibunya hanya bercerita mereka bercerai dan tak tahu kemana suami pertamanya itu. Laki-laki itu tak pernah menghubungi mereka, lenyap ditelan bumi.</p>
<p>Sehari-hari ibu Iyah dan adiknya jarang berada di rumah. Aku heran saja. Iyah mengatakan ibunya pergi berbisnis ke teman-teman atau familinya. Kadang sampai larut malam baru pulang ke rumah. Karena Iyah sekolah, adiknya dititipkan ke teman-teman ibunya itu atau famili. Seperti tak punya tanggungjawab pada keluarga. Jika ibunya sedang di rumah, ada tamu laki-laki yang berlama-lama disitu. Aku, Iyah dan adiknya dilarang ke ruang tamu, jadi kami hanya bermain di kamar. Terdengar tawa-tawa. Seusia itu aku belum memahami apa-apa.</p>
<p>Waktu Iyah pertama kali mendapat tanda telah memasuki akil baligh, dialah yang banyak berbagi pengalaman untukku. Apa yang harus disiapkan, apa yang diminum bila perut terasa kram dan lain-lain. Mama dan kakakku tak pernah bercerita soal ini, mungkin karena aku tidak berani bertanya atau hal yang tabu. Iyah tumbuh meninggalkan masa kanak-kanak menjelma jadi gadis cantik. Seperti bunga yang merekah. Aku tahu banyak teman pria di kelas yang mulai memperhatikannya walau aku tidak tahu apa penyebabnya. Dasar masih ingusan.</p>
<p>Akhir-akhir ini Iyah tak tampak bahagia. Di sekolah lesu, di rumah juga. Waktu istirahat teman sebangkuku ini jarang jajan, jadinya aku mengajaknya ke perpustakaan. Baru belakangan dia mau terbuka. Bapak pulang katanya. Tapi tidak lagi seperti bapak yang dikenal Iyah dulu. Tak lagi ada boneka atau baju baru, tapi hanya caci maki dan pertengkaran dengan ibunya. Entah kenapa Iyah juga menjadi sasaran, kena pukulan dan sumpah serapah. Puas membuat menderita orang serumah, bapaknya mabuk-mabukan, menegak berbotol-botol bir. Sesudahnya tidur berhari-hari. Bila ada bapak di rumah, aku dilarang keras mengunjungi Iyah. Apapun alasannya.</p>
<p>Puncak ujian hidup yang Iyah dan keluarganya alami terjadi kemudian. Ibunya tak sanggup bila ada bapak di rumah, dia mengungsi membawa adik Iyah. Tinggal lah Iyah yang harus mengurusi semua keperluan selama ada bapak di rumah.</p>
<p>Iyah menatapku tajam &#8220;Berjanjilah Ly kamu tidak akan memberitahu orang lain&#8221;  Aku menelan ludah. Mengangguk. Lalu Iyah menceritakan rahasianya.</p>
<p>Bunga biru di tangkainya bergoyang tertiup angin. Tanaman alur ini seolah merasakan kedukaanku.</p>
<p>Sahabat, derita tak akan pernah lagi menyentuhmu. Beristirahatlah dengan tenang. Aku menyusut airmata yang bergulir turun.</p>
<p>Kupandangi terakhir kali nisan itu. Tulisan dengan tinta hitam. Garis pendek di tengahnya. Sependek untaian hidupmu Sahabat. Sarat dengan cobaan.</p>
<p><i>Aku akan mengenangmu selalu. Sahabat. Bunga biruku.</i></p>
<h4>Keyword :</h4><ul><li>artikel alur buka dan alur tutup alur puncak dan alur tengah</li><li>bunga dari barang bekas</li><li>cerpen di sisi pusaramu</li><li>Cerpen/soptlens</li><li>Kisah bunga biru</li></ul><div class='yarpp-related-rss yarpp-related-none'>
<p>No related posts.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://munjalindra.com/2013/04/17/bunga-biru.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jodoh</title>
		<link>http://munjalindra.com/2013/04/12/jodoh.html</link>
		<comments>http://munjalindra.com/2013/04/12/jodoh.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Apr 2013 09:44:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kancil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[jodoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://munjalindra.com/?p=1105</guid>
		<description><![CDATA[Wanita berkulit putih itu meraih gelas di hadapannya. Perlahan disesapnya minuman beraroma vanila. Bibir merahnya sedikit bergetar saat cairan dingin membelai permukaan. Matanya dengan nuansa perunggu, warna soft lens nya hari ini, mengatup lamban. Dicecap-cecapkannya lidah, tanda menikmati. &#8220;Ayo diminum Teh, sambil nunggu makanan datang,&#8221; Suara merdunya mengalun. Kami duduk berhadapan, di cafe bergaya cozy [...]<div class='yarpp-related-rss yarpp-related-none'>

No related posts.
</div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Wanita berkulit putih itu meraih gelas di hadapannya. Perlahan disesapnya minuman beraroma vanila. Bibir merahnya sedikit bergetar saat cairan dingin membelai permukaan. Matanya dengan nuansa perunggu, warna soft lens nya hari ini, mengatup lamban. Dicecap-cecapkannya lidah, tanda menikmati.</p>
<p>&#8220;Ayo diminum Teh, sambil nunggu makanan datang,&#8221; Suara merdunya mengalun.</p>
<p>Kami duduk berhadapan, di cafe bergaya cozy dan nyaman. Terletak di sebuah gedung perkantoran bertingkat sembilan. Kantor kami ada di lantai tiga. Tempat aku dan wanita ini berkarya. Cafe itu juga milik dia. Maka diam-diam aku mengagumi sepak terjangnya. Ingin belajar banyak dari pengalamannya.<a href="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/jodoh-1.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1115" alt="jodoh-1" src="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/jodoh-1.jpg" width="320" height="228" /></a></p>
<p>&#8220;Kemarin yang nganter itu, suami teteh ya?&#8221; Dengan halus wanita itu bertanya.</p>
<p>Aku mengangguk.</p>
<p>&#8220;Masih muda&#8230;.&#8221; Dia meneruskan lalu terdiam.</p>
<p>&#8220;Seumuran dengan suami saya, beda berapa tahun Teh?&#8221; lanjutnya sejurus kemudian.</p>
<p>&#8220;Enam tahun,&#8221; Aku menyahuti.</p>
<p>&#8220;Sama,&#8221; Dia tersenyum. &#8220;Tapi itu suami kedua,&#8221; Dia terdiam lagi.</p>
<p>&#8220;Memang ngga gampang punya suami yang jauh lebih muda,&#8221; Aku berargumen.</p>
<p>&#8220;Tapi dia jodoh teteh kan, kelihatan kok,&#8221; Wanita itu memulai.</p>
<p>&#8220;Saya tidak berjodoh dengan suami pertama. Awalnya rumahtangga kami sempurna. Dia seusia dengan saya. Sama-sama bekerja. Saya ngga pernah menaruh curiga pada suami. Begitu pula dia. Berangkat kerja bareng, pulang kerja capek tidur. Main sama anak-anak. Liburan atau jalan-jalan di akhir pekan. Kehidupan seperti keluarga normal lainnya. Sampai suatu hari, saya mengeluarkan isi kantong celananya yang akan dicuci. Saya nemu bill sebuah resto ternama. Kalau dia kongkow-kongkow sama teman-teman, saya maklum. Tapi ini kok cuma buat berdua, dan pesanannya makanan perempuan banget. Bakso. Entah kenapa, saya mulai curiga. Dari celana, saya cek tas kerjanya. Nemu lagi bill makanan di cafe atau resto berbeda. Ada juga potongan tiket twentyone. Yang aneh, semua cuma untuk dua orang.</p>
<p>Ya, malamnya saya iseng nanya. Pah, mamah nemu bon makan siang di resto A, emang maksi sama siapa? Eh, suami menjawab santai banget, itu sih sama klien. Perempuan. Tadinya ngajak Mila juga, cewek marketing itu loh mah, tapi dia ngga bisa ikut. Jadi papah doang sama si klien. Jawabannya masuk akal, tapi kenapa saya tetap curiga? Rasanya masih ada yang kurang, ada yang hilang.</p>
<p>Terus, saya jadi rajin telepon setiap mau makan siang. Tanya dia makan dimana, sama siapa. Kadang dijawab jujur, kadang cuma buat menghibur. Suatu siang, saya penasaran Teh. Katanya lagi makan di cafe B. Kebetulan dekat dengan kantor saya. Buru-buru saya samperin. Itung-itung bisa maksi berdua, kejutan buat dia. Sampai di cafe B, saya-lah yang terkejut. Liat suami sama perempuan, pegang-pegangan tangan. Mesra.</p>
<p>Saya ngga melabrak mereka. Cuma ngeluarin ponsel berkamera. Klik. Lalu pulang.</p>
<p>Ketemu suami malamnya, saya beberkan semua bukti-bukti. Suami cuma memandang, dengan tenang bilang sekarang mau apa? Ya Tuhan&#8230; saya menangis sejadi-jadinya. Anak-anak ketakutan di kamar. Kami selama ini tak pernah bertengkar. Gara-gara perempuan jalang itu, rumahtangga saya jadi hancur berantakan. Hubungan suami dan perempuan itu sudah berlangsung enam bulan. Saya tercengang. Sudah selama itu? Kenapa saya tidak menyadarinya? Kenapa baru sekarang?</p>
<p>Saya temui wanita itu, bicara baik-baik. Sikapnya sama saja dengan suami saya, setali tiga uang. Kalau sudah begini, sekarang mau apa? Malah balik menantang. Kok jadi saya yang kelimpungan.</p>
<p>Akhirnya suami benar-benar mendiamkan. Saya dianggap arca, tidak ada. Berkurung diri di kamar. Pisah ranjang. Kadang menghilang bermalam-malam. Puncaknya ya ngga pulang-pulang.</p>
<p>Saya ngga kuat, Teh. Diperlakukan demikian. Pernah saya menyetir ugal-ugalan. Sambil menangis, tidak perduli anak-anak berteriak mengingatkan. Yang di pikiran, biar saja mati, kami mati.. selesai sudah.</p>
<p>Saya juga ke kantor suami. Memohon  kebijaksanaan. Atasan dan personalia berjanji menasehati. Tapi semua kembali kepada individu yang melakukan. Yaaa.. kami tidak berjodoh, Teh.</p>
<p>Saya mengurus sendiri semua keperluan perceraian. Hingga sidang, suami tak pernah datang. Komunikasi hanya lewat surat atau orangtuanya. Mertua saya, Teh sama menyerahkan kepada anaknya, semua keputusan.</p>
<p>Keputusan cerai baru seminggu, saya dengar suami menikah dengan perempuan itu. Keluar dari pekerjaannya dan pindah entah kemana. Ya sudah Teh, saya tidak minta apa-apa lagi dari dia. Asalkan anak-anak semua ikut saya. Tidak usah ikut menderita karena bapaknya.</p>
<p>Berbulan-bulan setelah saya tenang, tiba-tiba datang surat panggilan dari Kepolisian. Ternyata mantan suami, dijebloskan ke penjara akibat menipu orang. Saya dipanggil untuk memberikan jaminan.</p>
<p>Aku memandang wanita cantik di hadapanku. Cerita kehidupannya seluarbiasa kecantikannya.</p>
<p>Kalau berjodoh, sesulit apapun jalan yang ditempuh, serumit apapun kisah yang terjalin untuk menggapainya, pasti tak akan kemana. Dia tersenyum menatapku, meyakinkanku.</p>
<p>Ketahuilah, saat empat bulan engkau janin dalam kandungan</p>
<p>Saat itulah ditetapkan : rejekimu, jodohmu dan matimu.</p>
<p>Kita hanya perlu percaya.</p>
<p>Hanya perlu bersabar.</p>
<p>Hanya terus belajar.</p>
<p>Dalam sekolah bernama kehidupan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>For inspiring women : Dewi</em></p>
<h4>Keyword :</h4><ul><li>cerpen tentang jodoh</li><li>Cerpen jodoh</li><li>cerpen tidak jodoh</li><li>suami dan istri berdua pegang pegangan</li></ul><div class='yarpp-related-rss yarpp-related-none'>
<p>No related posts.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://munjalindra.com/2013/04/12/jodoh.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Roti</title>
		<link>http://munjalindra.com/2013/04/12/roti.html</link>
		<comments>http://munjalindra.com/2013/04/12/roti.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Apr 2013 08:29:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kancil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://munjalindra.com/?p=1093</guid>
		<description><![CDATA[Pemuda itu dengan santai menghempaskan pantat di kursi panjang angkot yang akan ditumpanginya. Hari masih sore, cerah. Besok minggu, libur sejenak dari rutinitas. Dompet tebal sehabis gajian dan yang terpenting sekarang waktunya hunting gadis-gadis cantik kota Malang. Sobat yang akan dikunjunginya di kota pelajar ini giat berpromosi soal gadis-gadis itu. Jadi tak ada salahnya dia [...]<div class='yarpp-related-rss yarpp-related-none'>

No related posts.
</div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/roti.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1096" alt="roti" src="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/roti-300x200.jpg" width="300" height="200" /></a>Pemuda itu dengan santai menghempaskan pantat di kursi panjang angkot yang akan ditumpanginya. Hari masih sore, cerah. Besok minggu, libur sejenak dari rutinitas. Dompet tebal sehabis gajian dan yang terpenting sekarang waktunya hunting gadis-gadis cantik kota Malang. Sobat yang akan dikunjunginya di kota pelajar ini giat berpromosi soal gadis-gadis itu. Jadi tak ada salahnya dia mencoba melihat suasana baru.</p>
<p>Lily melompat turun dari bis jurusan Malang &#8211; Surabaya. Berbarengan dengan semburat penumpang lain, bergegas mencari angkot menuju rumah kostnya berada. Lily baru seminggu bermukim disini untuk melanjutkan studinya. Dia sudah tahu, di atas jam enam petang tak ada lagi angkot jurusan Ijen yang melewati rutenya. Diliriknya jam di pergelangan, tersisa satu jam lagi sebelum pukul enam. Masih cukup waktu dan itu angkot yang akan dinaikinya sudah ngetem di ujung jalan.</p>
<p>Pemuda di dalam angkot mengeser duduknya, memberi kursi pada seorang ibu yang baru naik. Angkot belum juga beranjak, walau penumpang sudah mulai terisi. Seorang gadis, naik menyusul ibu tadi lalu duduk berseberangan dengan si pemuda. Manis juga gadis ini, si pemuda tersenyum-senyum sendiri. Semoga perilaku dan tutur katanya, semanis wajahnya harap sang pemuda. Tapi gadis itu terlihat gelisah, sendari tadi menatap arlojinya, lalu berpindah memandang keluar jendela. Diberanikannya diri membuka cakap dengan si gadis.</p>
<p>Lily menunggu si ibu menaiki angkot, kemudian menyusul di belakangnya. Angkot sudah mulai penuh, dia duduk di barisan tengah. Bapak tua dan seorang anak mengapit duduknya. Sementara di hadapannya seorang pemuda dan ibu yang tadi naik duluan. Lily kembali melirik jam tangannya. Setengah enam, tidak terasa. Di pandangnya keluar, tak ada angkot lain lagi. Ini benar-benar angkot terakhir. Mereka penumpang terakhir. Dan belum ada tanda-tanda sopir atau kernet pemilik angkot mendekati mobil ini.<i> Jangan-jangan, mobil ini ngga jalan deh</i>&#8230; Lily resah. Penumpang lain tertular gundah. Ibu di depannya sudah mengipas-ngipas badannya dengan tak sabar, matanya berpindah ke tempat duduk sopir lalu ke jalanan. Anak kecil di sampingnya mulai merengek ingin cepat jalan. Pemuda persis di hadapannya mencoba membuka pembicaraan.</p>
<p>&#8220;Jam berapa sekarang mbak?&#8221; Tanya si pemuda.</p>
<p>&#8220;Jam enam kurang mas,&#8221; Sahut Lily, sambil memastikan lagi arloji di pergelangannya.</p>
<p>&#8220;Jadi jalan ngga sih, ini mobil?&#8221; Si Ibu menimpali, kipasnya sekencang angin topan.</p>
<p>&#8220;Ngga ada sopir atau kernetnya ya ini angkot?&#8221; Bapak Tua ikut nimbrung.</p>
<p>&#8220;Paah.. hauss,&#8221; Anaknya menyela. &#8220;Iya nanti nak, sabar,&#8221; Bapak Tua menenangkan.</p>
<p>Penumpang di bagian terdepan dan belakang angkot juga ramai menyuarakan protesnya. Pembicaraan tak sesuai yang diharapkan si pemuda. Jadi dia mencoba lagi.</p>
<p>&#8220;Mau kemana mba? Kerja atau sekolah?&#8221; si Pemuda bertanya lagi.</p>
<p>&#8220;Ke jalan Ijen mas, kost disitu. Kuliah,&#8221; Lily menerangkan.</p>
<p>&#8220;Coba satu orang nanya, mobil ini jadi jalan ngga sih?&#8221; Si Ibu tak sabaran, kipas di tangannya remuk redam.</p>
<p>&#8220;Kalau ngga jalan, kita dorong aja ramai-ramai,&#8221; Si Bapak Tua mengusulkan.</p>
<p>&#8220;Paaah&#8230;lapar pah,&#8221; Anaknya menyelingi.</p>
<p>Penumpang di bagian terdepan dan belakang angkot sudah berhasil merumuskan undang-undang perangkotan dan siap demo di gurbenuran.</p>
<p>&#8220;Wah saya juga kearah itu mbak, mau main ke rumah teman,&#8221; Tak menyerah si pemuda, menarik lagi pembicaraan ke jalan yang benar. Pokoknya gadis ini bercakap dengannya, yang lain terserah.</p>
<p>&#8220;Kuliah apa mbak?&#8221; Pemuda itu berusaha agar perhatian si gadis tak terpengaruh penumpang lain.</p>
<p>&#8220;Kuliah bisnis mas di (si gadis menyebutkan sebuah nama lembaga terkemuka).</p>
<p>&#8220;Bagus itu, saya ini ke rumah teman juga sekalian mau belajar bisnis sama dia..haha,&#8221; Kata si Pemuda.</p>
<p>&#8220;Belajar akuntansi, hitung-hitungan njlimet,&#8221; Pemuda menjelaskan. Lily tersenyum.</p>
<p>&#8220;Saya sudah kerja mbak, di Surabaya. Tapi yaaaa&#8230; kerja kasar, dagang roti,&#8221; Pemuda meneruskan.</p>
<p>&#8220;Punya pabrik roti maksud mas?&#8221; Lily bertanya.</p>
<p>&#8220;Bukann.. cuma dagang roti keliling, buat bantu keluarga, biaya sekolah adik-adik,&#8221; Pemuda ini bercerita.</p>
<p>&#8220;Saya juga pendatang di Surabaya, aslinya tani di Darjo sana. Bapak ibu tani semua. Belakangan sudah ngga nutup hasil panennya. Ya saya bantu cari kerja di kota, dapatnya ya dagang roti itu.&#8221;</p>
<p>Si pemuda merasa nyaman melukiskan semua tentang dirinya kepada gadis yang baru dikenalnya ini. Dia tak tahu mengapa demikian. Tatapan lembut, anggukan tanda mengerti dan senyum menyemangati mungkin semua bahasa tubuh gadis itulah yang membuatnya luluh.</p>
<p>Karno nama pemuda itu. Lily mendengarkan dan sesekali menyahuti pertanyaannya. Senang ada yang searah seperjalanan. Tadi pemuda itu memberi ide, akan menemani jalan kaki saja bila angkot tak kunjung jalan. Ide yang sedikit melegakan. Ya, mau bagaimana lagi? Berjalan kaki pun, terpaksa dilakoni kalau sudah tak ada satu pun kendaraan umum yang beredar. Lily tergugah kisah mas Karno ini. Di balik wajahnya yang polos, ada tanggungjawab yang besar pada keluarganya. Lily merasa usia mereka sebaya, kisah mereka hampir senada.</p>
<p>Penumpang di bagian terdepan dan belakang angkot telah mengutus seorang perwakilan. Utusan segera menyambangi tempat duduk dewan terhormat persopiran di pangkalan. Dengan orasi dan dengar pendapat, akhirnya terjadi kesepakatan. Utusan kembali membawa relawan sopir yang sedia mengantar kami ke tujuan. Alhamdulillah.</p>
<p>Angkot melaju diiringi rembang petang kota Malang. Semua terdiam menekuri jalanan. Hanya satu pemuda yang tak lelah bertukar sapa. Seorang gadis mencoba mengimbangi jalan ceritanya.</p>
<p>&#8220;Stop pak, didepan.. ya.. disini!&#8221; Lily menandai tempat tujuannya. Turun dari angkot dan meraih dompetnya.</p>
<p>&#8220;Jangan..sudah, ini pak ongkos dua orang,&#8221; Mas Karno telah mendahului menyerahkan uang dan sudah berdiri di samping Lily.</p>
<p>&#8220;Mas ngga usah, ini ada kok,&#8221; Lily berusaha mengembalikan uangnya tapi angkot sudah pergi.</p>
<p>&#8220;Kok turun disini juga mas?&#8221; Lily keheranan setelah berterimakasih.</p>
<p>&#8220;Jalan kaki sedikit di persimpangan itu rumah teman saya, mbak,&#8221; Tunjuk mas Karno.</p>
<p>&#8220;Itu masuk gang, rumah nomor satu kostan saya mas, &#8220;Lily juga menunjukkan tujuan akhirnya.</p>
<p>&#8220;Boleh minta nomor teleponnya, siapa tahu saya bisa main lagi kesini?&#8221; Mas Karno bertanya dan berharap.</p>
<p>Lily menyebutkan nomor telepon yang langsung dicatat pada secarik kertas oleh mas Karno.</p>
<p>Lily hendak berbalik pergi, ketika tiba-tiba tangannya telah disampirkan sebuah tas plastik hitam.</p>
<p>&#8220;Eh.. apa ini mas?&#8221; Lily terkejut.</p>
<p>&#8220;Sedikit oleh-oleh,&#8221; Mas Karno tersenyum, menutup tas kain yang dibawanya dan sudah berjalan menjauh.</p>
<p>Lily dengan kelu tak mampu memutuskan. Dia ingin mengembalikan bungkusan plastik itu, tapi mas Karno telah berlalu. Akhirnya dibawanya serta pemberian pemuda itu.</p>
<p>Pagi itu, semua penghuni kostan menikmati roti lezat pembuka sarapan.</p>
<p>Roti coklat dan kue bolu lapis menunggu Lily di depan pintunya. Beberapa hari kemudian.</p>
<p>Roti tawar dan roti isi mengantri di minggu yang lainnya.</p>
<p>Beraneka roti silih berganti memamerkan kenikmatannya. Semua dikirim rutin oleh mas Karno. Untuk Lily.</p>
<p>Dan tak sekali pun Lily menyentuhnya. Sejak bungkusan di plastik hitam yang pertama.</p>
<p>Bukan karena Lily tak bisa makan roti. Tidak juga karena roti itu tak terlihat menggiurkan. Hanya saja, ini semua terlalu berlebihan. Mas Karno tak seharusnya menyisihkan barang dagangannya, hanya untuk menyenangkan hati Lily.</p>
<p>Lily tahu pemuda itu menaruh harapan.</p>
<p>Sangat disayangkan, Lily tak memiliki perasaan yang sama.</p>
<p>Bukan karena dia terpelajar, bukan karena status sosial, tidak pula  penampilan fisiknya.</p>
<p>Hanya karena cinta tak bisa dipaksa.</p>
<p>Telepon tak pernah diangkat, semua roti pemberian dikembalikan.</p>
<p>Semoga mas Karno mengerti. Jangan salahkan r o t i.</p>
<div class='yarpp-related-rss yarpp-related-none'>
<p>No related posts.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://munjalindra.com/2013/04/12/roti.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahukah Anda, berapa yang diterima oleh pemilik MLM ketika 1 orang menjadi Senior Manager (level 21%) ??</title>
		<link>http://munjalindra.com/2013/04/02/tahukah-anda-berapa-yang-diterima-oleh-pemilik-ml-ketika-satu-orang-menjadi.html</link>
		<comments>http://munjalindra.com/2013/04/02/tahukah-anda-berapa-yang-diterima-oleh-pemilik-ml-ketika-satu-orang-menjadi.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Apr 2013 04:32:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiapr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>
		<category><![CDATA[member get member]]></category>
		<category><![CDATA[mlm]]></category>
		<category><![CDATA[ponzi scheme]]></category>
		<category><![CDATA[pyramid scheme]]></category>
		<category><![CDATA[skema piramida]]></category>
		<category><![CDATA[skema ponzi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://munjalindra.com/?p=1071</guid>
		<description><![CDATA[Tabel diatas adalah salah satu contoh dari tabel yang ada di sebuah penyedia bisnis MLM  (kita sebut saja Oka-name sebagai ilustrasi) di akhir 2012 kemarin, kemungkinan untuk saat ini berubah baik nilai dari masing2 kolom. Tapi yang akan saya kupas adalah skema piramida (MLM) yang diterapkan di bisnis ini, dan sesuai dengan judul artikel diatas, [...]<div class='yarpp-related-rss yarpp-related-none'>

No related posts.
</div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/jenjang-karir-1.jpg"><img class="size-large wp-image-1072 alignnone" alt="jenjang karir-1" src="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/jenjang-karir-1-400x156.jpg" width="400" height="156" /></a></p>
<p>Tabel diatas adalah salah satu contoh dari tabel yang ada di sebuah penyedia bisnis MLM  (kita sebut saja Oka-name sebagai ilustrasi) di akhir 2012 kemarin, kemungkinan untuk saat ini berubah baik nilai dari masing2 kolom. Tapi yang akan saya kupas adalah skema piramida (MLM) yang diterapkan di bisnis ini, dan sesuai dengan judul artikel diatas, &#8220;Tahukah Anda, berapa yang diterima oleh pemilik MLM ketika satu orang menjadi Senior Manager (level 21%) ??&#8221;.</p>
<p>Sengaja saya ambil level Senior Manager, bukan level Saphire, Gold ataupun Diamond yang ada jauuuh diatasnya. Karena semakin ke atas, tentu saja akan semakin besar dana / uang yang akan diterima oleh Oka-name. Sebelum kita bahas lebih lanjut, maka kita samakan persepsi terlebih dahulu, bahwa saat ini kita berada pada sisi Oka-name, pihak &#8216;penyedia jasa MLM&#8217; serta &#8216;produsen alat2 produk tertentu&#8217; yang dijual oleh para konsultan / sales / member yg ada.</p>
<p>Kita mulai dari tabel yang ada diatas. Kita lihat pada &#8216;level paling awal&#8217;, yaitu Consultan level 3%. Disini terdapat informasi bahwa &#8216;kebutuhan poin&#8217; yang diperlukan seorang member berada di posisi ini adalah 200 poin dan 4 orang member (downline) dibawahnya. Lalu dia berhak menyandang gelar Consultan 3% dan bonus sebesar Rp 20.000,- s/d Rp 80.000,- (catatan : untuk nilai bonus, dll dapat berubah-ubah beriringnya waktu, yang ditekankan adalah sistem dan komposisi skemanya).</p>
<p>Baik kita kupas satu persatu. Dalam posisi ini saja, dari sisi Oka-name telah membukukan income sebesar :</p>
<ol>
<li>Registrasi 4 orang member (downline) baru, masing2 sebesar Rp 39.000,- jadi 4 x Rp 39.000 = Rp 156.000,-</li>
<li>Tutup poin dari sang &#8216;Consultan 3%&#8217;, sebesar 200 point, sekitar Rp 600.000,- (1 poin sekitar Rp 3.000)</li>
<li>Andaikan masing2 member baru tersebut juga melakukan tutup poin sebesar 200 poin, maka akan ada tambahan 4 x Rp 600.000,- alias sebesar Rp 2.400.000,- akan masuk ke &#8216;saku&#8217; Oka-name. <em>(Optional skenario)</em></li>
<li>Jadi sampai disini, income yang akan didapat oleh Oka-name adalah sebesar<br />
- Minimal : Rp 156.000 + Rp 600.000 = Rp 756.000,-<br />
- Maksimal : Rp 156.000 + Rp 600.000 + Rp 2.400.000 = Rp 3.156.000,-</li>
</ol>
<p>Dengan income masuk minimal sebesar <strong>Rp 756.000,-</strong> dan maksimal <strong>Rp 3.156.000,-</strong> yang diterima oleh Oka-name, maka &#8216;bonus&#8217; yang diberikan kepada sang &#8216;Consultan 3%&#8217; sebesar Rp 20.000,- s/d Rp 80.000,- tersebut adalah hal yang kecil sekali. Kalau boleh kita pakai prosentase, maka keuntungan dibandingkan bonus yg diberikan adalah sebesar 3.945%, hampir 40 kali lipatnya !! <img src='http://munjalindra.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Itu baru untuk &#8216;Consultan 3%&#8217;, sekarang kita coba bahas untuk yang sudah sampai di level &#8216;Senior Manager 21%&#8217;. Dimana untuk sampai di level tersebut dibutuhkan 10.000 poin, dan 150 orang downline dibawah nya (dalam jaringannya). Kita coba drilldown lagi hal diatas :</p>
<ol>
<li>Registrasi 150 orang member (downline) baru, masing2 sebesar Rp 39.000,- jadi 150 x Rp 39.000 = Rp 5.850.000,-</li>
<li>Tutup poin dari &#8216;Senior Manager 21%&#8217;, sebesar 10.000 poin, sekitar Rp 30.000.000,- (1 poin sekitar Rp 3.000)</li>
<li>Andaikan masing2 member baru tersebut juga melakukan tutup poin sebesar 200 poin (tutup poin minimal biar jadi Consultan 3%), maka akan ada tambahan 150 x Rp 600.000,- alias sebesar Rp 90.000.000,- akan masuk ke &#8216;saku&#8217; Oka-name. <em>(Optional skenario)</em></li>
<li>Jadi sampai disini, income yang akan didapat oleh Oka-name adalah sebesar<br />
- Minimal : Rp 5.850.000 + Rp 30.000.000 = Rp 35.850.000,-<br />
- Maksimal : Rp 5.850.000 + Rp 30.000.000 + Rp 90.000.000 = Rp 125.850.000,-</li>
</ol>
<p>Dengan income masuk minimal sebesar <strong>Rp 35.850.000,-</strong> dan maksimal <strong>Rp 125.850.000,-</strong> yang diterima oleh Oka-name, maka &#8216;bonus&#8217; yang diberikan kepada sang &#8216;Senior Manager 21%&#8217; sebesar Rp 5.000.000,- s/d Rp 7.000.000,- tersebut adalah hal yang sangaaattt kecil sekali sodara-sodara. Kalau boleh kita pakai prosentase, maka keuntungan dibandingkan bonus yg diberikan adalah sebesar 640,71%, lebih dari 6 kali lipatnya !! <img src='http://munjalindra.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/400px-Pyramid8Ball.svg_.png"><img class="alignleft size-full wp-image-1073" alt="400px-Pyramid8Ball.svg" src="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/400px-Pyramid8Ball.svg_.png" width="400" height="140" /></a>Hal diatas dapat kita lanjutkan untuk level-level diatas nya. Semakin keatas level yang ada, maka semakin besar pula income yang akan diterima oleh Oka-name.</p>
<p>Jadi misalnya untuk memberikan hadiah 1 buah mobil terbaru untuk member yg telah sampai di level tertentu, ataupun memberikan cash award sebesar puluhan juta untuk level-level lainnya, bahkan mengajak jalan-jalan keliling dunia sekalipun, itu semua adalah dana yang teramat sangat kecilll sekali bagi Oka-name.</p>
<p>Jadi bagaimanapun juga, Oka-name lah yang akan selalu diuntungkan dalam bisnis ini. sedangkan para consultan2 / member2 nya, dimanapun level berada, hanyalah &#8216;karyawan&#8217; dan &#8216;sales&#8217; saja jika dilihat dari sisi Oka-name. Apapun level karir yang telah di-achieve.</p>
<p>Keuntungan-keuntungan lain yang didapatkan oleh Oka-name dengan bisnis MLM (skema piramid / member get member) ini lainnya adalah :</p>
<ol>
<li>Tidak diperlukan biaya promosi, baik itu di media massa / cetak. karena seluruh member yg ada yg akan melakukan promosi tersebut. Oka-name cukup membuat 1 brosur saja setiap bulannya, dengan iming2 bonus ataupun gimmick lainnya untuk member baru</li>
<li>Tidak diperlukan biaya sallary / gaji bagi tenaga marketingnya, karena cukup diberikan &#8216;sekian persen&#8217; dari &#8216;sekian persen&#8217; keuntungan yang didapat dari penjualan yang dilakukan oleh member tersebut berikut jaringannya (lihat dua contoh penjelasan diatas)</li>
<li>Semakin banyak member yang mendaftar, maka potensi penjualan yang diterima oleh Oka-name terhadap produk-produknya (apapun itu jenis dan macamnya) akan semakin besar. Karena masing-masing level dan jenjang mempunyai &#8216;kewajiban&#8217; untuk Tutup poin sekian poin agar dapat &#8216;mengklaim&#8217; bonus ataupun &#8216;hasil jerih&#8217; payahnya setiap bulannya. Padahal kalau dirunut-runut lebih lanjut, bonus yang didapatkan oleh masing2 member itu sebenernya adalah uang dari member yang ada didalam jaringannya sendiri. dan itupun hanya sekian persen dari sekian persen nya saja. Dari sisi Oka-name tidak diperlukan untuk mengalokasikan pos ataupun anggaran khusus untuk hal ini.</li>
</ol>
<p>Semoga saja artikel diatas ini dapat sedikit &#8216;membuka pikiran serta mata&#8217; bagi para consultan / member dari Oka-namers pada khususnya, ataupun member MLM apapun juga bentuknya pada umumnya. Bahwa bagaimanapun juga, provider / penyedia / pemilik sistem MLM (dalam artikel ini adalah Oka-name) itulah yang akan selalu diuntungkan dan nilai keuntungannya adalah berlipat-lipat dari bonus atau apapun juga bentuk award / hadiah yang diberikan.</p>
<p>Artikel ini tidak bermaksud untuk mendeskriditkan satu pihak maupun lainnya, penggunaan nama Oka-name serta contoh level, bonus, prosentase serta lainnya hanyalah sebagai contoh ilustrasi saja. <img src='http://munjalindra.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<h4>Keyword :</h4><ul><li>berapa keuntungan dealer motor</li><li>berapa orang yang diterima</li><li>keuntungan pemilik situs mlm 10 level</li></ul><div class='yarpp-related-rss yarpp-related-none'>
<p>No related posts.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://munjalindra.com/2013/04/02/tahukah-anda-berapa-yang-diterima-oleh-pemilik-ml-ketika-satu-orang-menjadi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Howto Make your SSH connection faster than before on Ubuntu</title>
		<link>http://munjalindra.com/2013/02/21/howto-make-your-ssh-connection-faster-than-before-on-ubuntu.html</link>
		<comments>http://munjalindra.com/2013/02/21/howto-make-your-ssh-connection-faster-than-before-on-ubuntu.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Feb 2013 04:35:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiapr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[connection]]></category>
		<category><![CDATA[faster]]></category>
		<category><![CDATA[ssh]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://munjalindra.com/?p=1067</guid>
		<description><![CDATA[Do your connection speed when SSH on any server fell so slow? exspesialy when use Ubuntu as your Operating System. Here the tips to make it&#8217;s more &#8216;faster&#8217; than before. Open /etc/ssh/ssh_config from your terminal Remark (add # in front of the line) : before : GSSAPIAuthentication yes GSSAPIDelegateCredentials no after : # GSSAPIAuthentication yes [...]<div class='yarpp-related-rss'>

Related posts:<ol>
<li><a href='http://munjalindra.com/2008/01/25/fedora-8-instalation-user-guide-01.html' rel='bookmark' title='Fedora 8 Installation User Guide &#8211; 01'>Fedora 8 Installation User Guide &#8211; 01</a></li>
</ol>
</div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Do your connection speed when SSH on any server fell so slow? exspesialy when use Ubuntu as your Operating System. Here the tips to make it&#8217;s more &#8216;faster&#8217; than before.</p>
<ol>
<li>Open <strong>/etc/ssh/ssh_config</strong> from your terminal</li>
<li>Remark (add # in front of the line) :<br />
<span style="text-decoration: underline;">before :</span></p>
<pre><code><span style="color: #ff6600;">GSSAPIAuthentication yes
GSSAPIDelegateCredentials no</span>

<span style="text-decoration: underline;">after :</span>
</code></pre>
<pre><span style="color: #339966;"><code># GSSAPIAuthentication yes
# GSSAPIDelegateCredentials no</code></span></pre>
<pre><code> </code></pre>
</li>
<li>save your file</li>
<li>And now try to connect use SSH to any server. it&#8217;s more &#8216;faster&#8217; than before. <img src='http://munjalindra.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<h4>Keyword :</h4><ul><li>cara membuka hidden file di android</li><li>bisnis ssh</li><li>trik ssh di android</li><li>trik ssh android</li><li>trik dan tips SSH</li><li>ssh account faster gratis 8 april 2013</li><li>internet gratis dengan ssh di ubunTu</li><li>internet fast with ssh</li><li>install ssh to fast internet in ubuntu</li><li>cara membuka ssh di ubuntu</li></ul><div class='yarpp-related-rss'>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://munjalindra.com/2008/01/25/fedora-8-instalation-user-guide-01.html' rel='bookmark' title='Fedora 8 Installation User Guide &#8211; 01'>Fedora 8 Installation User Guide &#8211; 01</a></li>
</ol></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://munjalindra.com/2013/02/21/howto-make-your-ssh-connection-faster-than-before-on-ubuntu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yudhi Aprianto Resolusi 2013</title>
		<link>http://munjalindra.com/2013/02/18/yudhi-aprianto-resolusi-2013.html</link>
		<comments>http://munjalindra.com/2013/02/18/yudhi-aprianto-resolusi-2013.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2013 16:14:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiapr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://munjalindra.com/?p=1056</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah Resolusi Yudhi Aprianto selama tahun 2013. Bismillahirrohmanirrohim&#8230; mohon doa restu dan bantuannya ya &#8230; Keyword :serba trik 2013yudhi aprianto<div class='yarpp-related-rss'>

Related posts:<ol>
<li><a href='http://munjalindra.com/2008/02/25/another-yudhi-aprianto.html' rel='bookmark' title='Another Yudhi Aprianto'>Another Yudhi Aprianto</a></li>
</ol>
</div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini adalah Resolusi Yudhi Aprianto selama tahun 2013.<br />
Bismillahirrohmanirrohim&#8230; mohon doa restu dan bantuannya ya &#8230; <img src='http://munjalindra.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/resolusi-2013.jpg"><img class="alignleft  wp-image-1057" alt="Yudhi Aprianto Resolusi 2013" src="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/resolusi-2013.jpg" width="600" /></a></p>
<h4>Keyword :</h4><ul><li>serba trik 2013</li><li>yudhi aprianto</li></ul><div class='yarpp-related-rss'>
<p>Related posts:<ol>
<li><a href='http://munjalindra.com/2008/02/25/another-yudhi-aprianto.html' rel='bookmark' title='Another Yudhi Aprianto'>Another Yudhi Aprianto</a></li>
</ol></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://munjalindra.com/2013/02/18/yudhi-aprianto-resolusi-2013.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Human Eye Resoluton in Mega Pixel</title>
		<link>http://munjalindra.com/2012/10/09/human-eye-resoluton-in-mega-pixel.html</link>
		<comments>http://munjalindra.com/2012/10/09/human-eye-resoluton-in-mega-pixel.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Oct 2012 03:12:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiapr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://munjalindra.com/?p=1036</guid>
		<description><![CDATA[The average human retina has five million cone receptors on it. Since the cones are responsible for colour vision, you might suppose that this equates to a five megapixel equivilant for the human eye. But there are also a hundred million rods that detect monochrome contrast, which plays an important role in the sharpness of [...]<div class='yarpp-related-rss yarpp-related-none'>

No related posts.
</div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>The average human retina has five million cone receptors on it. Since the cones are responsible for colour vision, you might suppose that this equates to a five megapixel equivilant for the human eye.</p>
<p>But there are also a hundred million rods that detect monochrome contrast, which plays an important role in the sharpness of the image you see. And even this 105MP is an underestimate because the eye is not a still camera.</p>
<p>You have two eyes (no kidding!) and they continually flick around to cover a much larger area than your field of view and the composite image is assembled in the brain &#8211; not unlike stitching together a panoramic photo. In good light, you can distinguish two fine lines if they are seperate by at least 0.6 arc-minutes (0.01.Degrees).</p>
<p>This gives an equivilant pixel size of 0.3 arc-minutes. If you take a conservative 120 degrees as your horizontal field of view and 60 degrees in the vertical plane, this translates to &#8230;<a href="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/eye.275155757_std.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1037" title="eye.275155757_std" src="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/eye.275155757_std-266x200.jpg" alt="" width="266" height="200" /></a></p>
<p>576 megapixels of available image data.</p>
<p>Curiously &#8211; as a counterpoint to this &#8211; most people cannot distinguish the difference in quality between a 300dpi and a 150dpi photo when printed at 6&#215;4&#8243;, when viewed at normal viewing distances.</p>
<p>So: although the human eye and brain when combined can resolve massive amounts of data, for imaging purposes, 150dpi output is more than enough to provide adequate data for us to accept the result as photographic quality.</p>
<p>But don&#8217;t forget that women have more cones and men have more rods &#8211; I kid you not.Therefore the ladies see colours brighter than gents but can&#8217;t see as well when it gets dark.</p>
<div class='yarpp-related-rss yarpp-related-none'>
<p>No related posts.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://munjalindra.com/2012/10/09/human-eye-resoluton-in-mega-pixel.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Butir-butir Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4)</title>
		<link>http://munjalindra.com/2012/10/01/butir-butir-pedoman-penghayatan-dan-pengamalan-pancasila-p4.html</link>
		<comments>http://munjalindra.com/2012/10/01/butir-butir-pedoman-penghayatan-dan-pengamalan-pancasila-p4.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Oct 2012 06:56:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yudhiapr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba Serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://munjalindra.com/?p=1029</guid>
		<description><![CDATA[Masih pada ingatkah akan butir-butir yang terdapat pada Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau yg lebih sering disingkat dengan P4 di era tahun 1980 &#8211; 1990 an dulu?? berikut ini data selengkapnya, dan semoga kita semua bisa menghayati dan mengamalkan nya serta menjadikannya sebagai pedoman hidup. 1. Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Bangsa Indonesia menyatakan [...]<div class='yarpp-related-rss yarpp-related-none'>

No related posts.
</div>
]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/Garuda_Pancasila.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1031" title="Garuda_Pancasila" src="http://munjalindra.com/wp-content/uploads/Garuda_Pancasila-183x200.jpg" alt="" width="183" height="200" /></a>Masih pada ingatkah akan butir-butir yang terdapat pada Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau yg lebih sering disingkat dengan P4 di era tahun 1980 &#8211; 1990 an dulu??</p>
<p>berikut ini data selengkapnya, dan semoga kita semua bisa menghayati dan mengamalkan nya serta menjadikannya sebagai pedoman hidup. <img src='http://munjalindra.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>1. Ketuhanan Yang Maha Esa</strong><br />
(1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.<br />
(2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.<br />
(3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.<br />
(4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.<br />
(5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang<br />
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.<br />
(6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.<br />
(7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.</p>
<p><strong>2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab</strong><br />
(1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.<br />
(2) Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.<br />
(3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.<br />
(4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.<br />
(5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.<br />
(6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.<br />
(7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.<br />
(8) Berani membela kebenaran dan keadilan.<br />
(9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.<br />
(10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.</p>
<p><strong>3. Persatuan Indonesia</strong><br />
(1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.<br />
(2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.<br />
(3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.<br />
(4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.<br />
(5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.<br />
(6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.<br />
(7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.</p>
<p><strong>4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan</strong><br />
(1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.<br />
(2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.<br />
(3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.<br />
(4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.<br />
(5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.<br />
(6) Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.<br />
(7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.<br />
(8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.<br />
(9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.<br />
(10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.</p>
<p><strong>5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia</strong><br />
(1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.<br />
(2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.<br />
(3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.<br />
(4) Menghormati hak orang lain.<br />
(5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.<br />
(6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.<br />
(7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.<br />
(8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.<br />
(9) Suka bekerja keras.<br />
(10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.<br />
(11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.</p>
<h4>Keyword :</h4><ul><li>garuda pancasila logo</li><li>logo pancasila</li><li>butir butir pancasila</li><li>makalah p4</li><li>hubungan p4 dengan pancasila</li><li>logo garuda</li><li>makalah pancasila tentang p4</li><li>musyawarah dengan akal sehat dan hati nurani yang luhur</li><li>memperlakukan manusia sesuai dengan harkat martabat</li><li>artikel kemanusiaan yang adil dan beradab</li></ul><div class='yarpp-related-rss yarpp-related-none'>
<p>No related posts.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://munjalindra.com/2012/10/01/butir-butir-pedoman-penghayatan-dan-pengamalan-pancasila-p4.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
